Satgas Pastikan Belum Ada Wacana Ubah Definisi Kematian COVID-19

Matius Alfons - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 17:29 WIB
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Satgas COVID-19 memastikan Pemerintah Indonesia belum ada rencana mengubah definisi kematian akibat virus Corona. Pemerintah menyebut akan tetap mengikuti definisi yang ada mengacu pada WHO sekaligus Keputusan Menteri Kesehatan.

Wacana perubahan definisi kematian COVID-19 sebelumnya sempat disampaikan Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Kesehatan Kementerian Kesehatan, M Subuh saat kunjungan ke Provinsi Jawa Timur bertemu dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Subuh dalam kunjungan itu mengungkapkan angka kematian dapat ditekan dengan definisi yang benar terkait kematian akibat COVID-19.

"Kita harus berusaha dalam 2 minggu kedepan terjadi penurunan angka penularan, peningkatan angka kesembuhan, penurunan angka kematian di 9 Provinsi termasuk wilayah Jawa Timur, penurunan angka kematian harus kita intervensi dengan membuat definisi oprasional dengan benar, meninggal karena COVID-19 atau karena adanya penyakit penyerta sesuai dengan panduan dari WHO, dan juga dukungan BPJS Kesehatan dalam pengajuan klaim biaya kematian pasien disertai COVID-19" kata Subuh dalam keterangannya seperti dilihat detikcom di situs Kemkes.go.id, Selasa (22/9/2020).

Menanggapi hal itu, juru bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito mengungkap hingga saat ini belum ada rencana pemerintah untuk mengganti definisi kematian akibat Corona. Hingga saat ini definisi masih mengacu pada WHO dan peraturan KMK HK/0107/Menkes 413 tahun 2020.

"Perlu kami sampaikan bahwa pemerintah Indonesia menggunakan definisi kematian COVID-19 merujuk pada acuan dari WHO dan itu dituangkan dalam KMK HK/0107/Menkes 413 tahun 2020, pada saat ini, pemerintah Indonesia belum ada wacana untuk melakukan perubahan seperti yang diusulkan Gubernur Jawa Timur (Khofifah)," kata Wiku saat memberikan keterangan pers melalui akun YouTube Setpres.

Wiku pun menjelaskan saat ini pemerintah Indonesia melaporkan kasus kematian akibat Corona apabila kasus tersebut terkonfirmasi ataupun kasus probable COVID-19 yang merupakan suspek ISPA berat atau memiliki gambaran ARDS klinisi meyakinkan COVID-19.

"Prinsipnya kasus kematian yang dilaporkan adalah kasus konfirmasi maupun kasus probable COVID-19, dan kasus probable itu adalah suspek dengan ISPA berat, ARDS dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RTPCR," ujar Wiku.

Dia pun memastikan definisi tersebut juga dilakukan oleh negara Amerika Serikat. Meski demikian, Wiku menyebut setiap negara juga memiliki definisi kematian akibat COViD-19 yang bervariasi dan seluruh definisi tetap tercatat pada laporan kematian WHO.

"Kondisi ini merujuk pada WHO juga dilakukan oleh beberapa negara kami ambil contoh Amerika juga hitung kematiannnya berdasarkan baik pada probable dan suspek dan mereka membedakan dalam pengkategorisasian pencatatannya, sedangkan contoh lain yaitu Inggris hanya memasukkan pasien yang terbukti positif COVID-19 melalui tes dalam pencatatan kematian, angka kematian rata-rata dunia adalah gabungan dari berbagai pencatatan dunia yang ada variasinya," papar Wiku.

(maa/imk)