Kasus Kematian Corona di RI Naik 18,9% dalam Sepekan

Matius Alfons - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 16:29 WIB
Jubir Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito menyampaikan update penanganan kasus pada Selasa (15/9) (YouTube Seskab)
Jubir Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito menyampaikan update penanganan kasus. (Foto: dok. YouTube Seskab)
Jakarta -

Satuan Tugas COVID-19 Nasional mengungkapkan adanya peningkatan jumlah kematian akibat virus Corona di Indonesia dibandingkan pekan sebelumnya. Jumlah kematian disebut meningkat hingga 18,9 persen.

"Secara nasional jumlah kematian mengalami kenaikan 18,9 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya," kata juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito saat memberikan keterangan pers melalui akun YouTube Setpres, Selasa (22/9/2020).

Wiku menjelaskan kenaikan angka kematian tertinggi terjadi pada lima provinsi selama seminggu terakhir. Provinsi yang paling tinggi mengalami kenaikan angka kematian adalah Jawa Tengah, DKI Jakarta, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

"Kenaikan kematian tertinggi pertama di Jawa Tengah, yaitu naik 46 orang, DKI Jakarta 32 orang, Aceh 26 orang, Sumut 24 orang, dan Sumbar 13 orang," ucap Wiku.

Selain itu, Wiku juga mengungkap terdapat lima provinsi yang memiliki persentase kematian tertinggi di Indonesia. Provinsi tersebut secara berturut-turut Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, NTB, dan Bengkulu.

"Sedangkan persentase kematian tertinggi pertama adalah Jawa Timur 7,29 persen, Jawa Tengah 6,47 persen, Sumatera Selatan 6,04 persen, NTB 5,91 persen, dan Bengkulu 5,85 persen," ujar Wiku.

Wiku pun menyebut ada dua cara untuk menurunkan rata-rata kematian akibat Corona. Menurutnya, selain menjaga tidak adanya penambahan kasus kematian, Pemerintah Provinsi harus meningkatkan jumlah testing dan tracing.

"Selama 3-4 minggu berturut-turut harus dijaga agar tidak ada penambahan kasus kematian dan dengan cara meningkatkan testing serta tracing, maka lima daerah ini dalam beberapa minggu ke depan seharusnya dapat menurunkan kasus kematiannya menjadi paling tidak sama dengan rata-rata nasional," sebut Wiku.

Simak video 'Studi Terbaru Sebut Demam Berdarah Bikin Kebal Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(maa/imk)