Wapres: 95% Tak Ada Lagi Makanan Berformalin

Wapres: 95% Tak Ada Lagi Makanan Berformalin

- detikNews
Jumat, 13 Jan 2006 16:34 WIB
Jakarta - Pemerintah menjamin saat ini boleh dibilang tidak ada lagi makanan mengandung bahan pengawet fomalin yang beredar di masyarakat. Meski demikian, survei tetap terus digelar."Boleh dibilang 95% di masyarakat tidak ada lagi (makanan berformalin)," kata Wapres Jusuf Kalla di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (13/1/2006).Jaminan tersebut didasarkan pada hasil pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) per 12 Januari 2006. Dari 15 kota yang disurvei, makanan berformalin hanya ditemukan dua kota dengan masing-masing dua kasus. Hal tersebut menunjukkan telah terjadi penghentian produksi atau penarikan produk makanan berformalin besar-besaran dari pasaran belakangan ini. Sedangkan distribusi bahan pengawet formalin pun kembali ke jalur yang seharusnya. Jadi masyarakat tidak perlu lagi takut mengkonsumsi mie basah, tahu atau produk-produk makanan yang sebelumnya dinyatakan berformalin."Boleh dibilang sekarang ini sudah bersih. Jadi amanlah Anda konsumsi," tambah JK.Meski demikian, Wapres memerintahkan pada BPOM untuk terus melanjutkan operasi dan pengawasannya di pasar. Karena terbukti, kegiatan tersebut bermanfaat bagi masyarakat.Sayangnya sanksi berupa pencabutan izin usaha bagi para produsen makanan berformalin atau penyalahguna bahan pengawet tersebut akan sulit diterapkan."Masalahnya dari semua yang diteliti, tidak ada izinnya. Jadi bagaimana mau dicabut?" ujar Wapres sambil tersenyum kecil.Awasi Tahu dan Mie BasahDitemui secara terpisah, Kepala BPOM Sampurno menyatakan akan terus memperketat pemantauan di pasar di seluruh Indonesia. Fokusnya adalah makanan selama ini diduga kuat diawetkan dengan formalin, seperti tahu dan mie basah, serta yang mengandung bahan pewarna atau pemanis buatan.Untuk efektivitasnya, BPOM akan menggandeng gubernur dan bupati untuk melakukan pengawasan wilayah masing-masing. BPOM sendiri sudah menyiapkan 2.000 orang tenaga pengawas dan 1.800 orang penyuluh lapangan."Kita membuat area pembagian (berdasar hasil temuan sampel), merah, hijau dan kuning. Merah itu harus kita pantau terus, hijau lebih dari 20%, yang kuning tinggal 2%," ujarnya. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads