Pendapatan Ojol Turun, Bamsoet Ingatkan Bansos Harus Tepat Sasaran

Abu Ubaidillah - detikNews
Minggu, 20 Sep 2020 16:03 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) berempati dengan dampak pandemi COVID-19 yang berimbas pada kehidupan pekerja informal seperti ojek online. Telebih pada saat ini Jakarta kembali memberlakukan PSBB yang mengharuskan warga mengurangi berbagai aktivitas di luar rumah.

Dalam kegiatan akhir pekannya pada Sabtu (19/9) pagi, Bamsoet bertemu dengan berbagai kalangan seperti yang tampak pada acara UNDERCOVER di akun YouTube-nya, Bamsoet Channel. Berbeda dengan PSBB sebelumnya, kali ini ojek online boleh membawa penumpang dengan syarat mematuhi protokol kesehatan, namun order tetap turun.

"Di satu sisi menunjukkan ketaatan warga mematuhi PSBB dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, di sisi lain membawa dampak ekonomi yang cukup signifikan terhadap pendapatan ojek online, maupun kalangan usaha lainnya. Karena itulah pentingnya pemerintah DKI Jakarta mendistribusikan bantuan secara merata, agar mereka yang terdampak PSBB seperti pengemudi ojek online, bisa tetap menghidupi diri secara layak," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Minggu (20/9/2020).

Salah satu pengemudi ojek online yang ditemui Bamsot adalah Iis (42). Wanita ini telah menjadi ojek online sejak 2017 di kawasan Gondangdia, tepatnya di bawah jembatan layang kereta api. Ia harus menjadi tulang punggung bagi keempat anaknya setelah diceraikan suaminya 3 tahun lalu.

Iis menarik ojek mulai setengah 6 pagi hingga sore. Kadang saat pandemi dan adanya kebijakan PSBB tak ada satupun nada panggilan berdering di handphone-nya. Itu berarti tak sepeserpun rupiah yang masuk ke rekeningnya karena tak ada penumpang.

Di hari Jumat (18/9) Iis hanya mendapat 3 penumpang saja seharian. Di hari Sabtu pagi, dalam tayangan UNDERCOVER tersebut Iis masih belum menghasilkan sepeserpun rupiah karena belum ada penumpang. Iis juga curhat kalau saldo tabungannya hanya tinggal Rp 11 ribu. Ia juga mengaku hingga kini dirinya belum mendapat bantuan sama sekali dari pemerintah, khususnya bantuan tunai.

Selain Iis, kondisi serupa juga disarakan oleh Fitria yang sehari-hari berjualan nasi dan lauk pauk menggunakan mobil pick up di pinggir jalan. Sebagian besar pelanggannya yang orang kantoran tak bisa membeli dagangannya karena tak masuk kantor akibat PSBB jilid II.

"Di tengah pandemi COVID-19, Ibu Iis dan Ibu Fitria tetap mencari nafkah, karena mereka mengaku belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah provinsi. Sementara bantuan berupa sembako maupun donasi yang didapat dari warga, tak bisa mencukupi kebutuhan harian. Karenanya rezeki tetap harus dicari. Ironis, di tengah keharusan warga berdiam diri di rumah, himpitan ekonomi malah datang menghampiri. Sementara bantuan yang merupakan hak mereka sebagai warga negara, tak bisa menutupi beban kehidupan," imbuhnya.

Ia kemudian mendorong pemerintah pusat hingga daerah untuk segera kembali menggelontorkan berbagai program bantuan sosial dengan tepat sasaran serta mengajak kalangan warga yang memiliki kondisi perekonomian cukup baik untuk kembali mengulurkan donasinya.

Menurut Bamsoet, tanpa semangat gotong-royong saling bahu membahu memberikan pertolongan, pandemi COVID-19 bukan hanya akan membuat sulit kondisi kesehatan masyarakat, melainkan juga membuat sulit kehidupan ekonomi warga.

"Di berbagai tempat, masih banyak Ibu Iis dan Ibu Fitria lainnya, para perempuan tangguh yang tengah berjuang melawan COVID-19 sekaligus melawan himpitan ekonomi. Sekaranglah waktunya bagi kalangan kelas menengah dan atas untuk mengubur rasa individualistik dan egoisme. Tunjukan empati sosial dan kebangsaan dengan menyalurkan berbagai bantuan. Sedikit yang kita beri, akan berarti banyak bagi mereka yang membutuhkan," ungkapnya.

(akn/ega)