Kesaksian Tragedi Jamarat (2)
Tiba-tiba Injak Tumpukan Mayat
Jumat, 13 Jan 2006 13:33 WIB
Mina -
Para jamaah haji kloter 40 JKS yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al Fattah, Tanggamus, Lampung kaget bukan kepalang. Saat beberapa meter bergerak menuju lantai dua jamarat, tiba-tiba di depan mereka terjadi histeria banyak orang. Eh... tak tahunya, mereka sudah menginjak tumpukan mayat."Mayat-mayat itu pak, bergelimpangan. Ratusan jumlahnya. Bahkan, yang saya injak itu, ada jamaah haji dari Eropa yang masih hidup dan memegang kaki saya. Tapi, saya mau menolong kan juga gak bisa," kata M Entoy, jamaah haji kloter 40-JKS kepada detikcom, Kamis (12/1/2006) malam di perkemahannya di Maktab 13 menceritakan kisah tragedi jamarat yang dialaminya. Menurut Entoy, mayat-mayat yang berjatuhan itu terdiri dari jamaah haji laki-laki maupun perempuan. Sebagian besar orang-orang berkulit hitam dan orang Timur Tengah. Ada juga jamaah dari Eropa. Kesaksian yang sama juga disampaikan Wanawir yang juga jamaah haji dari kloter yang sama. Menurut dia, saat rombongan jamaahnya bergerak beberapa meter menuju lantai dua jamarat, tiba-tiba saat itu terjadi keributan. Banyak orang yang menangis dan histeris. Dirinya sempat terbengong-bengong. Tapi, tak lama kemudian jamaahnya terdorong oleh lautan jamaah haji yang mencoba menyelamatkan diri. "Saat itulah, secara tidak sadar saya sudah menginjak mayat-mayat. Masya Allah, banyak sekali mayat yang bergelimpangan bertumpuk-tumpuk," ujar Wanawir. Saat terjadi keributan itu, menurut Wanawir, rombongannya masih berada agak jauh dari jumratul ula. Sepertinya, peristiwa mengerikan itu sudah agak lama terjadi. "Lha kok tiba-tiba sudah ada banyak mayat bergelimpangan dan saat itu polisi juga sudah membuat pagar betis," ungkap dia. Karena itu, bisa jadi kejadian yang dialami jamaah haji kloter 40 JKS itu merupakan kejadian susulan. "Saya kira ini gempa susulan. Gempa pertama yang terjadi mungkin terjadi setengah jam lalu, tapi polisi belum bisa mengevakuasi mayat-mayat dan belum bisa mengendalikan massa," ujar dia. Sudirman, yang merupakan Dandim Tanggamus, Lampung dan ikut dalam rombongan itu juga mendapatkan kisah yang sama. "Saya juga kaget kok di jalan-jalan sudah banyak mayat yang berjatuhan," kata Sudirman. Dia juga menyaksikan histeria massa yang luar biasa. Ada jamaah laki-laki berkulit putih yang histeris di depan istrinya yang sudah meninggal terinjak-injak. Sementara tangisan para jamaah haji perempuan juga sangat nyaring terdengar di lokasi. Begitu menginjak mayat-mayat, Sudirman pun langsung menyelamatkan diri dan terpecah dari rombongan jamaahnya. Karena saat itu dorongan massa dari belakang dan massa dari depan terus mengalir. Dia berhasil menyelamatkan istrinya. Sudirman akhirnya berhasil keluar dari kerumunan lautan manusia itu, meski dirinya sempat beberapa kali terjatuh dan terinjak. Sudirman juga menyaksikan teman-teman satu rombongannya banyak yang terjatuh dan terinjak. Bahkan, ada juga jamaah kloter 40 JKS yang menaiki pagar tembok untuk menyelamatkan diri. Karena itu, Sudirman sangat bersyukur bisa selamat dari tragedi. "Dalam pikiran saya, bila di antara kami ini ada yang selamat 10 orang, itu sudah syukur sekali. Tapi, ini mukjizat, hampir semua jamaah kami selamat," ujar dia.Setelah menyaksikan tragedi itu, Sudirman pun segera kembali ke perkemahannya dengan hati yang dag-dig-dug. "Setelah sampai di tenda, saya sangat bersyukur karena saya melihat banyak jamaah yang selamat dan sudah sampai terlebih dulu di perkemahan," ujar dia.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































