Pengamat Media:
Jangan Munafik Sikapi Playboy
Jumat, 13 Jan 2006 13:06 WIB
Jakarta - Mengutuk, eh tapi nanti penasaran juga ingin lihat. Protes, tapi diam-diam akan beli juga atau pinjam. Bakal terbitnya Playboy edisi Indonesia disikapi munafik?"Masyarakat Indonesia ini sebenarnya hipokrit juga. Mereka membelinya dengan sembunyi-sembunyi, tapi tidak berani menyatakan persetujuannya, malah bicaranya menolak," cetus pengamat media Veven SP Wardhana.Resistensi, diyakininya akan muncul menanggapi majalah bergambar pose syur berskala internasional yang edisi Indonesianya akan terbit bulan Maret ini di Tanah Air.Namun ada solusi cerdas untuk mengatasinya, ketimbang bersikap hipokrit, alias munafik. Apalagi mengingat ada media serupa berskala lokal yang justru lebih syur dan hanya mengandalkan eksploitasi fisik semata.Jadi harus bagaimana menyikapi Playboy edisi Indonesia? Berikut wawancara Veven SP Wardhana dengan detikcom melalui telepon, Jumat (13/1/2006):Bagaimana Anda memandang Playboy edisi Indonesia?Munculnya Playboy edisi Indonesia ini yang pasti akan memunculkan resistensi di sebagian kalangan.Kasus Amara (Tiara Lestari) yang dari Solo sudah menunjukkan itu. Padahal itu adalah Playboy edisi Spanyol. Bayangkan sekarang ada yang di depan mata.Sebenarnya bagaimana pembatasan pornografi dan pornoaksi itu?Yah, undang-undangnya belum ada, sehingga itu tergantung daripada ideologi yang melatarbelakangi. Latar belakang ideologi itu akan melatari apakah UU Pornografi dan Pornoaksi tersebut melarang atau mengatur.Mengatur, dalam artian, tidak didapatkan di sembarang tempat, penjualannya dibatasi berdasarkan umur, dan sebagainya. Sementara yang melarang, yah tidak boleh sama sekali.Lalu RUU Pornografi dan Pornoaksi ini arahnya ke mana?Saya melihat kecenderungannya ke arah pelarangan. Ini terlihat dalam kasus Anjasmara, yang menjadi model foto nudis (telanjang). Padahal hasil karya tersebut dipamerkan dalam ruang tertutup, dan dengan tujuan seni karena memang itu acara seni (biennale).Jadi bagaimana langkah yang seharusnya ditempuh masyarakat jika ada keberatan?Langkahnya adalah melalui pengadilan. Jika tidak bisa juga, boleh saja melakukan demo, tapi jangan mengobrak-abrik.Potensi pasar Playboy di Indonesia?Saya melihat pasar Indonesia potensial sekali. Masyarakat Indonesia ini sebenarnya hipokrit juga. Mereka membelinya dengan sembunyi-sembunyi, tapi tidak berani menyatakan persetujuannya, malah bicaranya menolak.Sebenarnya Playboy jika dilihat dari versi yang terbit di AS, memiliki perbedaan dari media-media yang hanya menampilkan eksploitasi fisik semata.Lihat saja cover story-nya. Misalnya pada liputan mengenai Demi Moore. Mereka juga mengeksplorasi segi-segi lain dari Demi Moore. Misalnya pandangan hidupnya dan sebagainya. Hal seperti itu tidak kita jumpai di media-media serupa yang ada di Indonesia saat ini.Lalu Anda sendiri setuju dengan kehadiran Playboy di Indonesia?Saya setuju, asalkan diatur penjualan atau distribusinya. Hanya boleh dijual di tempat tertentu, dengan sasaran konsumen tertentu. Sehingga jika muncul pelanggaran, yang kena bukan penerbitnya, tapi si penjualnya, karena telah menyalahi aturan.
(sss/)











































