Tanpa Playboy, Sudah Banyak Beredar yang Begituan
Jumat, 13 Jan 2006 10:50 WIB
Jakarta - Kehadiran Playboy versi Indonesia mengundang pro kontra di kalangan anggota DPR. Mereka pun ikut angkat bicara. Ada yang menolak berlangganan, ada yang risih, dan ada juga yang cuek dengan majalah baru itu.Anggota Komisi I dari FPAN Tristanti Mitayani mengaku keberatan dengan terbitnya Playboy. "Tetapi saya tidak bisa melarang. Yang pasti saya tidak bakal langganan," ujar Tristanti di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (13/1/2006).Apabila tetap terbit, menurut Tristanti, penjualannya harus terbatas dan dikontrol karena hal itu bukan konsumsi publik. "Kebebasan ada batasnya," ujarnya.Anggota Komisi I dari FPG Antarini Malik juga menyampaikan hal senada. "Apalagi saat ini sedang dibahas RUU Pornografi dan Pornoaksi. Dalam RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik tidak ada masalah pornografi," cetusnya.Anggota Komisi I DPR dari Partai Demokrat Shidki Wahab juga setali tiga uang. "Di Swedia, negara yang terkenal kebebasannya, sudah membatasi.... baik di media cetak maupun elektroniknya. Apalagi kita yang berbudaya timur, saya risih melihatnya apalagi jalan-jalan dengan anak-anak," kilahnya. Berbeda dengan tiga rekannya, anggota Partai Damai Sejahtera Jeffrey J Massie mengaku tidak risau akan kehadiran Playboy di Indonesia. "Saya kok tidak terlalu risau karena tanpa Playboy Indonesia sekarang banyak yang beredar seperti begituan," cetus Jeffrey.Namun demikian, menurut Jeffrey, peredaran Playboy harus terbatas untuk umur 17 tahun ke atas dan harus diberi sampul dan diplastik agar tidak diintip.Playboy yang berpusat di AS mengizinkan pengusaha media Indonesia untuk menerbitkan edisi lokal dalam bentuk franchise. Majalah ini akan terbit bulan akhir Maret. Saat ini, Playboy Indonesia tengah mengadakan audisi untuk cover majalah tersebut atau disebut Playmate.
(aan/)











































