Samiyem Tak Dampingi Satimin Saat Lempar Jumrah

Insiden Jamarat Mina

Samiyem Tak Dampingi Satimin Saat Lempar Jumrah

- detikNews
Jumat, 13 Jan 2006 07:42 WIB
Mina - Kesedihan yang mendalam tentu dirasakan oleh Samiyem, istri Satimin. Suaminya termasuk salah satu dari 358 korban meninggal dunia akibat tragedi Jamarat Mina. Saat tragedi itu merenggut nyawa suaminya, Samiyem tidak sedang bersama Satimin. Satimi (67) dan Samiyem (60) merupakan pasangan suami-istri yang baru menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya pada musim haji tahun ini. Untuk merealisasikan niat hajinya, pasangan ini melunasi biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) dan mendaftar sebagai anggota jamaah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al Fattah, Tanggamus. Pasangan ini tergabung dalam kloter 40 JKS dan berangkat dari Jakarta pada 22 Desember 2005. Dijadwalkan kloter ini akan pulang ke Indonesia pada 29 Januari 2006. Di Makkah, rombongan kloter ini masuk dalam Maktab 13. Satimi dan Samiyem beralamatkan di Mega II Pekon Lom Talang Padang Tanggamus, Lampung. Pasangan ini berprofesi sebagai pedagang. Mereka memiliki toko di pasar. Pasangan ini merupakan keluarga besar dengan 14 anak. "Sebetulnya kami memiliki 16 anak, tapi 2 telah meninggal," aku Samiyem saat ditemui detikcom di perkemahan di Maktab 13, Mina, Kamis (12/1/2006) malam. Samiyem bercerita saat tragedi jamarat terjadi, dirinya tidak ikut suaminya melempar jumrah. Saat itu, suaminya berangkat bersama 90 anggota jamaah haji dari KBIH AL Fattah pimpinan KH Zainuddin sekitar pukul 10.00 WAS. Rombongan berangkat sebelum dluhur dengan harapan dapat melempar jumrah ba'dal jawal (ba'da dhuhur), yang sering disebut-sebut waktu afdal. Dalam rombongan KBIH ini terdapat sejumlah pejabat Kabupaten Tanggamus. Antara lain Ketua DPRD Tanggamus Al Hajar dan Dandim Tanggamus Letkol (TNI) Sudirman. Juga ikut rombongan menuju jamarat adalah Ketua KBIH KH Zainuddin dan Ketua Kloter 40 JKS Masaedi. "Saya tidak ikut melempar jumrah, karena pinggang saya sakit," kata Samiyem yang tampak sedih itu. Pinggang Samiyem keseleo saat menumpang bus di saat meninggalkan Muzdalifah menuju Mina. "Pinggang saya terbentur besi tempat duduk bus," ungkap dia. Dan saat mengantar suaminya di pintu tenda menjelang keberangkatan menuju Jamarat, ternyata menjadi pertemuan terakhir Samiyem dengan Satimin. Tidak ada jalan bagi Samiyem, kecuali bersabar dan mendoakan suaminya agar menjadi 'syahid'. Sementara Asmuni, yang sehari-hari menjadi tetangga Satimin di kampung, tampak terpukul dengan meninggalnya Satimin. Asmuni yang juga berhaji dan berada dalam 1 KBIH dengan Satimin mengaku sempat menolong Satimin saat tragedi Jamarat. Namun, karena Asmuni juga menolong istrinya, pegangan tangan dengan Satimin terlepas. "Saya melihat Pak Satimin jatuh dan terinjak-injak. Setelah itu saya tidak tahu lagi, karena saya menyelamatkan diri. Suasananya begitu mencekam," ujar Asmuni. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads