Cerita Dokter Keluarkan Peluru Nyasar di Kaki Korban Kasus Brigadir AM

Dwi Andayani - detikNews
Kamis, 17 Sep 2020 17:57 WIB
Sidang lanjutan kasus peluru nyasar Brigadir AM
Foto: Dwi Andayani/detikcom
Jakarta -

Jaksa penuntut umum menghadirkan dokter umum IGD RS Bhayangkara dalam lanjutan sidang kasus tewasnya mahasiswa Universitas Halu Oleo, Randi. Dokter ini mengaku mengeluarkan proyektil peluru dari perempuan yang diduga terkena peluru nyasar.

Sidang lanjutan ini dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis (17/9/2020). Dokter Arif Budiman menyampaikan kesaksiannya melalui Zoom.

Arif mengatakan, pada 26 September 2019 malam, dia menerima seorang pasien perempuan bernama Maulidia. Arif mengatakan Maulidia datang ke rumah sakit diantar suami, dengan kondisi kesakitan dan pincang.

"Seorang perempuan, (namanya) Maulidia datang dibawa sama suaminya. Kondisinya kesakitan dan jalan terpincang," kata Arif dalam persidangan.

Arif menyebutkan, dia melakukan penanganan selama 15 menit. Arif mengaku berhasil mengeluarkan proyektil peluru utuh dari betis kaki sebelah kanan.

"Kemudian bilang ada serpihan di betis istrinya, kemudian 15 menit kami coba keluarkan serpihan itu," kata Arif.

"Pertama dipake pinset dikorek tapi karena tidak bisa, kita perlebar sedikit lukanya. Saya temukan sebutir peluru utuh. Hanya satu luka saja," sambungnya.

Arif menduga luka tersebut didapat dengan tembakan jarak jauh. Sebab, luka hanya satu dan bersih pada area luar.

"Dari luar lukanya bersih. Jarak jauh, kalau jarak dekat biasanya ada seperti semburan, ini lukanya satu seperti tusuk," pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam persidangan ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Brigadir AM. Brigadir AM didakwa dengan tiga dakwaan, yakni dakwaan kesatu primer Pasal 338 KUHP subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP atau kedua Pasal 360 ayat 2 KUHP.

Jaksa menyebut perbuatan Brigadir AM terkait tewasnya mahasiswa Kendari yang diduga tertembak saat berunjuk rasa di DPRD Sultra dan menyebabkan seorang ibu hamil terluka tembakan di kakinya.

(dwia/isa)