BNPT Pantau Broadcast Ajakan Masuk Grup WhatsApp 'Pergi ke Surga'

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 17 Sep 2020 13:33 WIB
Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar
Komjen Pol Boy Rafli Amar (Rakean R Natawigena/20detik )
Jakarta -

Beredar broadcast atau pesan berantai yang berisi soal adanya grup WhatsApps diduga terkait dengan ISIS. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia mengaku memantau broadcast yang diduga terkait ISIS itu.

Pesan berantai itu beredar di aplikasi WhastApps, Kamis (17/9/2020). Pesan itu berisi tentang peringatan agar mewaspadai adanya grup WA 'To Firdaus we ascend'. Grup itu diduga miliki jaringan ISIS.

"Izin menginfokan. Sudah ada grup WA dengan nama ('To Firdaus we ascend'/'ke surga kita pergi'), jika di-invite/diundang jangan ikut bergabung, WA ini milik ISIS/Daesh. Jika bergabung, maka Anda tidak bisa keluar dari grup. Agar berhati-hati, sebarkan kepada keluarga & sahabat anda," tulis pesan berantai itu.

Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar mengatakan informasi seperti itu merupakan propaganda dari jaringan terorisme. Ia meminta masyarakat waspada.

"Pertama, berkaitan dengan konten informasi mengarah kepada hal-hal terkait ajakan untuk semacam merupakan propaganda ya. Terkait dengan konten di media sosial yang nuansanya propaganda sekaligus ajakan untuk melakukan aktivitas terkait kegiatan teror ya, tentunya masyarakat perlu waspada," kata Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar kepada detikcom.

Ia meminta masyarakat tidak langsung mempercayai informasi-informasi yang tersebar di media sosial. Sebab, menurutnya, jaringan-jaringan terorisme memang kerap menggunakan media sosial untuk menyebarkan propaganda.

"Jadi karena di informasi yang beredar di dunia maya ini ya tentu tidak semuanya informasi yang bermanfaat dan baik kepada masyarakat. Jadi perlu kita mewaspadai ajakan-ajakan untuk bergabung dalam suatu percakapan grup media sosial, karena memang hari ini propaganda pelaku jaringan terorisme itu mengandalkan sosial media dalam menyebarluaskan konten-kontennya," ujar Boy.

"Jadi penyebarluasan yang sifatnya paham radikal intoleran itu antara lain memanfaatkan social media. Jadi masyarakat perlu waspada dan memilih informasi yang bermanfaat. Jika ada hal-hal propaganda yang sifatnya provokatif, mengajak untuk bergabung untuk mengarah ke kegiatan-kegiatan terorisme sebagusnya diabaikan," lanjutnya.

Boy mengatakan pihaknya juga melakukan pemantauan terkait beredarnya informasi yang berhubungan dengan jaringan terorisme tersebut. Boy menilai informasi-informasi seperti itu bisa mencelakakan masyarakat. Sebab, menurutnya, jika masyarakat tidak waspada maka mereka akan mudah dihasut sehingga menjadi bagian dari jaringan terorisme.

"Jadi informasi seperti ini juga merupakan bagian yang kita lakukan monitoring dan antisipasi terhadap konten-konten tersebut. karena berpotensi untuk mencelakakan masyarakat. Bila warga tak menyadari, tentu bisa mengarah pada kegauatan-gautan, bergabung, secara tidak sadar mengikuti, apalagi generasi muda. Yang penting kita perlu waspada karena dari socmed inilah yang memang banyak dijadikan sarana penyebarluasan tadi, termasuk perekrutan," tuturnya.

Simak video 'Jurus BNPT Mencegah Radikalisme, Blak-blakan Kepala BNPT':

[Gambas:Video 20detik]



(ibh/fjp)