Tahun 2006, 2.796 Buruh di Jateng Terancam PHK

Tahun 2006, 2.796 Buruh di Jateng Terancam PHK

- detikNews
Kamis, 12 Jan 2006 16:38 WIB
Semarang - Kenaikan harga BBM akhir tahun lalu diperkirakan masih menelan 'korban'. Berdasarkan data Yayasan Wahyu Sosial (Yawas) Semarang, pada tahun 2006 setidaknya 2.796 buruh terancam PHK.Selain kenaikan harga BBM, ancaman PHK juga disebabkan kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik). Perusahaan yang terindikasi melakukan PHK adalah, PT Pagilaran, Batang (perkebunan), PT Hanil, Boyolali (tekstil), industri rokok, Solo, PT Semen Cibinong, PT Suryatek Magelang (tekstil), PT Tunas Kencana Magelang dan PT Karya Utama Magelang (genteng)."Pada tahun 2005, mereka memberi sinyal akan mem-PHK buruhnya. Pasalnya mereka sangat keberatan menggaji buruh saat harga BBM dan TDL dinaikkan," kata Direktur Yawas Nur Fuad Ali ketika ditemui di kantornya, Jl Sri Widodo Selatan Semarang, Kamis (12/1/2006).Berdasar urutan jumlah buruh, industri rokok Solo menempati ranking pertama dengan 3.288 orang. Disusul dengan PT Pagilaran (2000), PT Hanil (1000) dan PT Suryatek Magelang (385). Tiga perusahaan lainnya hanya mempunyai buruh di bawah 100 orang.Jika ancaman betul-betul terjadi, maka hal itu akan memperparah kondisi sebelumnya. Pada tahun 2005, sekitar 8.802 buruh di-PHK. "Rata-rata alasan PHK pada waktu itu adalah perusahaan pailit. Bisa jadi karena biaya produksi berlipat akibat kenaikan harga BBM dan TDL," ungkap Fuad.Tahun lalu, sektor usaha yang paling menderita adalah tekstil, sandang, dan kulit (TSK). Sebanyak 5.115 buruh pada perusahaan tersebut di-PHK. Disusul dengan industri perkayuan (580 buruh), dan farmasi (176 buruh).Banyaknya perusahaan yang mengaku pailit menyebabkan, buruh bergejolak. Pada periode Juli-Desember 2005, terdapat 126 kali aksi buruh. "Sebagian besar dari mereka menuntut upah yang lebih tinggi. Ini juga karena imbas kenaikan harga BBM dan TDL," kata Fuad menegaskan.Aksi buruh terjadi di 30 kota/kab di Jateng. Dengan demikian, hanya lima kota/kab yang buruhnya tak bergejolak karena di daerah tersebut jumlah buruhnya sedikit. Kota yang paling sering jadi aksi buruh adalah Semarang dan Purwokerto."Dengan data ini, pemerintah seharusnya bertindak lebih cermat dan berpihak kepada buruh. Bagaimana pun juga kalau buruh di-PHK, maka pengangguran kian meluas," harap Fuad. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads