PBNU: Kekerasan Terhadap Anak Benih Tindakan Teror
Kamis, 12 Jan 2006 16:12 WIB
Jakarta - Makin banyaknya kasus kekerasan yang menimpa anak dalam keluarga akhir-akhir ini tak urung membuat PBNU mewanti-wanti para ibu agar mewaspadai hal itu dan memberikan perhatian serius."Dari kekerasan semacam itu bisa menjadi benih tindak kekerasan lainnya. Bahkan dalam skala yang lebih besar, yang lebih parah adalah kekerasan yang mengarah kepada tindakan teror," Kata Ketua PBNU Masdar Farid Mas'udi.Hal ini disampaikan dia dalam acara diskusi dan workshop bertajuk "Agama, gerakan kekerasan, dan terorisme" di kantor PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/1/2006).Menurut catatan Masdar, sebanyak 80 persen kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh ibu. Sebab itu masyarakat perlu waspada terhadap makin banyaknya kasus kekerasan terhadap anak dalam keluarga.Masdar juga mengingatkan, selain kekerasan dalam rumah tangga, perlu diwaspadai juga kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dengan pendidikan yang rendah dan keyakinan agama yang kurang."Hal itu bisa menjadi lahan bagi teroris dalam rangka memperluas jaringan dan memperbanyak anggota," ujar Masdar.Rohaniawan Franz Magnis Suseno mengimbuhkan, dirinya merasa ngeri terhadap terorisme atas nama agama."Karena orang-orang yang berada di balik terorisme atas nama agama seakan-akan mengklaim bahwa membunuh orang yang tidak bersalah merupakan tugas suci seseorang tersebut atau kelompoknya," kata Franz."Mereka merasa berhak untuk menghilangkan nyawa orang, melukai dan membuat cacat tubuh orang lain seakan-akan tidak perlu ada yang disesalkan," tutur pastor yang sering dijuluki "Kasman" atau bekas Jerman yang sangat Indonesianis ini.Menurut Franz, di Indonesia, pengakuan bahwa ada terorisme atas nama agama sangat lama disangkal, hingga kemudian muncul teror bom di Bali. "Teroris yang tertangkap di dalam ruang sidang justru menyerukan nama Tuhan," paparnya.Dia pun berharap ada tokoh agama yang mau dan mampu menegur para teroris yang mengatasnamakan Tuhan secara terbuka."Karena orang yang dengan kepala dingin membunuh ratusan orang yang tidak bersalah tidak berhak menyerukan nama Tuhan," tegas Franz.
(ndr/)











































