Pernyataan Lengkap Jokowi Minta Pemda Tak Buru-buru Tutup Wilayah

Tim detikcom - detikNews
Senin, 14 Sep 2020 12:47 WIB
Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan kepada gubernur mengenai pengendalian pandemi virus Corona dan pemulihan ekonomi.
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan rapat terbatas (ratas) terkait penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi. Jokowi menekankan pentingnya pembatasan berskala lokal dan meminta kepala daerah tidak terburu-buru menutup satu wilayah penuh.

"Intervensi untuk pembatasan berskala lokal penting sekali penting dilakukan, baik manajemen intervensi dalam skala lokal maupun komunitas, sehingga jangan buru-buru menutup sebuah wilayah, menutup sebuah kota, menutup sebuah kabupaten, dan kalau kita kerja berbasis data, langkah-langkah intervensinya berjalan efektif dan bisa segera menyelesaikan masalah-masalah di lapangan," kata Jokowi dalam rapat terbatas penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi yang disiarkan saluran YouTube Sekretariat Presiden, Senin (14/9/2020).

Jokowi menjelaskan, hal ini karena dalam sebuah wilayah, tidak semua berstatus zona merah Corona. Setiap RT, RW, desa, kelurahan, maupun kecamatan, misalnya, memerlukan perlakuan yang berbeda dalam penanganan Corona.

Selain itu, Jokowi menegaskan pemerintah terus menambah tempat isolasi COVID-19. Jokowi mengungkap data-data tempat isolasi COVID-19 di DKI Jakarta dan sekitar, meliputi RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran hingga di Balai Pelatihan Kesehatan Ciloto.

Berikut ini pernyataan lengkap Jokowi:

Sebelum nanti laporan dari komite saya ingin menekankan beberapa hal untuk menjadi perhatian untuk kita semuanya.

Pertama perlu saya ingatkan kembali bahwa keputusan-keputusan dalam respons penambahan kasus di provinsi, kabupaten atau kota, saya minta semuanya selalu melihat data sebaran. Kemudian yang sudah berkali-kali saya sampaikan, terapkan strategi intervensi berbasis lokal, strategi pembatasan berskala lokal, baik itu di tingkat RT/RW, di tingkat desa, di tingkat kampung, sehingga penanganannya lebih detil dan bisa lebih fokus.

Karena dalam sebuah provinsi, misalnya ada 20 kabupaten/kota tidak semuanya berada pada posisi merah, yang 20 itu. Sehingga penanganannya tentu saja jangan digeneralisir, di sebuah kota atau di sebuah kabupaten pun sama, tidak semua kelurahan, tidak semua desa, tidak semua kecamatan juga mengalami hal yang sama, merah semuanya. Ada hijau, ada yang kuning, itu memerlukan treatment dan perlakuan yang berbeda-beda.

Oleh sebab itu sekali lagi strategi intervensi berbasis lokal, strategi intervensi untuk berbasis pembatasan berskala lokal, ini penting sekali untuk dilakukan. Baik itu manajemen intervensi yang dalam skala lokal, maupun skala komunitas, sehingga sekali lagi jangan buru buru menutup sebuah wilayah, menutup sebuah kota, menutup sebuah kabupaten, dan kalau kita bekerja berbasiskan data, langkah-langkah intervensinya itu akan berjalan lebih efektif dan bisa segera menyelesaikan masalah-masalah yang ada di lapangan.

Selanjutnya
Halaman
1 2