Jokowi, Jakob Oetama, dan Survei Itu...

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 14 Sep 2020 10:11 WIB
blak-blakan sidarto
Sidarto Danusubroto/Foto: 20Detik
Jakarta -

Sidarto Danusubroto adalah salah seorang politisi di PDI Perjuangan yang pertama kali mempromosikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai bakal calon presiden periode 2014-2019. Ia tergolong nekad mengingat jajaran pengurus apalagi Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan sama sekali belum memberikan isyarat apapun. Langkah Sidarto itu juga membuat Jokowi rikuh mengingat dirinya baru setahun lebih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Rupanya Sidarto Danusubroto tak cuma mengandalkan naluri politik. Juga bukan nekad mentang-mentang dirinya mantan jenderal polisi. Ia melakukan itu semua berkat perhitungan berdasarkan data survei.

Alkisah, sekitar September 2013 dirinya yang baru beberapa bulan menjabat Ketua MPR Sidarto Danusubroto mendapat undangan makan dari pendiri Kompas/Gramedia Jakob Oetama (JO). Turut diundang kala itu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Sidarto didampingi politisi PDI Perjuangan, Eva K. Sundari, sementara JO ditemani seorang Romo.

Di sela-sela makan, tiba-tiba JO menyodorkan laporan hasil sebuah survei. "Pak Darto, hasil survei (popularitas dan elektabilitas Jokowi) ini tinggi sekali," bisik JO. "Tolong Pak Darto (mulai) saat ini bawa dia kemana-mana," imbuhnya. "Pak Darto, dia enggak bisa dikalahkan," sang pendeta di samping JO menimpali.

Dari situlah kemudian Sidarto mulai mempromosikan figur Jokowi ke berbagai forum diskusi, seminar. Salah satunya adalah menjadikan Jokowi sebagai pembicara kunci dalam seminar bertajuk, "Transportasi Massal Perkotaan untuk Mendukung Ekonomi Wilayah" di Universitas Janabadra, Jogjakarta pada akhir Januari 2014.

Turut menjadi pembicara antara lain Guru Besar Transportasi UGM Prof. Dr.Ing. Munawar, Dr M. Nanang P dari Janabadra, dan pengamat transportas Dr. Nindyo Cahyo K. Usai seminar tiba-tiba Sidarto mendapat kabar para rector dari perguruan tinggi di Jawa Tengah minta bertemu Jokowi.

"Pak Jokowi kaget dan menolak karena sudah ada acara lain, tapi akhirnya jadi bertemu dengan syarat tak ada pidato," ujar Sidarto. Ketika baru memasuki ruangan ternyata para rektor itu serentak berdiri menyambut sambil meneriakan yel-yel, 'Jokowi, Jokowi, Jokowi'. "Sampai merinding saya mendengarnya," ujar Sidarto.

Dari situlah Sidarto Danusubroto kemudian membentuk Sekretariat Nasional Jokowi (Seknas Jokowi). Turut bergabung sejumlah anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan seperti Helmy Fauzi yang kini menjadi Dubes di Mesir. Juga ada aktivis civil society, akademisi, dan purnawirawan. Mereka secara teratur mulai menggalang kampanye, mempromosikan Jokowi.

(ddg/jat)