Di Bogor, MPR Sosialisasi 4 Pilar Lewat Pagelaran Wayang Golek

Abu Ubaidillah - detikNews
Minggu, 13 Sep 2020 23:25 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Meski dalam suasana pandemi COVID-19, MPR tetap menjalankan sosialisasi Empat Pilar dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kali ini, sosialisasi Empat Pilar digelar menggunakan metode pentas seni dan budaya yakni pagelaran wayang golek.

Bertempat di Balai Desa Sukamanah, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hadir dalam sosialisasi anggota MPR Fraksi PAN Sarifuddin Sudding, Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antarlembaga, dan Layanan Informasi Setjen MPR Budi Muliawan, jajaran aparat pemerintahan, serta ratusan masyarakat.

Kehadiran Sarifuddin Sudding dan Budi Muliawan disambut hangat oleh masyarakat dan jajaran pemeritahan. Mapak Pengagung, demikianlah sambutan Sunda yang biasa diberikan kepada para tamu. Dalam Mapak Pengagung, tokoh Semar, Cepot, dan Dewala, beserta empat gadis penari, dalam bentuk tarian suka cita menyambut para tamu dari MPR.

Dalam Mapak Pengagung itulah Kepala Desa Sukamanah Ismail secara adat resmi menyambut kedatangan para tamunya. Dalam sambutannya, Sarifuddin Sudding mengatakan Empat Pilar MPR ini bisa ditanamkan kepada masyarakat dengan metode yang lebih menyegarkan dan menggembirakan serta menghibur.

"Setelah saya berdiskusi dengan Pak Kepala Desa, akhirnya kita pilih lewat acara seperti malam ini, yakni pentas wayang golek," ungkap Sudding dalam keterangannya, Minggu (13/9/2020).

Jadi menurut pria asal Sulawesi itu, kegiatan malam itu sudah dirancang jauh-jauh hari dan pastinya juga dibahas pentingnya penerapan protokol kesehatan. Menurut Sudding, tugas MPR melaksanakan sosialisasi dengan beragam metode. Ia menyebutkan metode itu seperti ceramah, seminar, outbound, FGD, kunjungan ke kampus, lewat seni budaya, dan bentuk lainnya.

"Alhamdulillah malam ini bisa terlaksana," tukasnya.

Dalam suasana yang menurut Sudding memprihatinkan seperti saat ini, pandemi COVID-19, cara yang paling tepat untuk sosialisasi adalah lewat metode seni budaya. Bahkan, ia menyebutkan sosialisasi seperti malam tersebut bisa meningkatkan imun dan daya tahan tubuh.

"Sebab, lebih gampang diterima masyarakat ketimbang menggunakan metode lain yang sifatnya satu arah. Salah satu yang dapat menangkal COVID-19 ketika daya tahan tubuh kita betul-betul dalam kondisi prima," tuturnya.

Dalam pesan Empat Pilar dikatakan kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan konsensus atau kesepakatan para pendiri bangsa. Ia juga memaparkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari berbagai macam suku, ras, agama, dan bahasa. Penduduk bangsa ini tersebar di wilayah yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga pulau Rote.

Keragaman yang demikian diakui sangat rentan terjadinya disintegrasi bangsa. Ia bersyukur ketika para pendahulu memberi contoh yang menguatkan persatuan di antara keragaman.

"Pada 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Hal demikian disebut cita-cita bersatu dalam keberagaman," ucapnya.

Dirinya mengingatkan masyarakat hendaknya betul-betul membangun persatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

"Ketika keragaman dikelola dengan baik maka itu merupakan satu kekuatan bangsa ini dalam menghadapi berbagai macam tantangan. Hal demikian bisa sebaliknya, ketika kemajemukan tidak dikelola dengan baik maka itu merupakan sumber perpecahan," kata dia.

Dalam sosialisasi lewat pagelaran wayang kulit, Sudding mengajak kepada semua untuk berdoa agar pandemi cepat berlalu. Berharap bila sudah kembali normal, sosialisasi lewat pagelaran wayang kulit bisa dilakukan lebih sering.

Sementara itu, Budi Muliawan yang akrab disapa Wawan dalam sambutan pada malam itu menyebut sosialisasi Empat Pilar lewat pagelaran wayang golek merupakan salah satu metode untuk menanamkan dan memberi pengertian serta pemahaman Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara, kepada masyarakat.

"MPR memilih pagelaran seni budaya sebagai metode sosialisasi Empat Pilar bukan tanpa alasan," ujar pria alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya itu.

Disampaikan kepada ratusan orang yang hadir dalam acara itu, sosialisasi dengan metode pagelaran seni budaya juga merupakan salah satu bentuk penerapan Pasal 32 UUD NRI Tahun 1945. Dengan aturan yang ada dalam UUD tersebut, menurut Wawan, negara wajib melestarikan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya.

Dipaparkan pada malam itu, masyarakat akan diberikan pemahaman Empat Pilar MPR lewat wayang golek, dengan mengambil kisah atau lakon yang berjudul 'Kesatria Daerah', dengan dalang K. Ceceng Arifin. Dijelaskan oleh alumni program Pascasarjana UI itu itu pagelaran wayang golek malam itu adalah selain menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Empat Pilar MPR, juga sebagai bentuk tindakan nyata dalam pelestarian seni dan budaya yang ada di Indonesia.

"Melalui wayang golek, mudah-mudahan nilai-nilai luhur bangsa dapat diinternalisasikan kepada masyarakat," harapnya.

Dalam kesempatan itu, Wawan mengabarkan kepada masyarakat di sana bahwa MPR saat ini masuk dalam lima besar lembaga yang dipercaya oleh masyarakat. Dasar lima lembaga itu dipercaya masyarakat berdasarkan survei yang dilakukan beberapa lembaga survei.

"Lima besar lembaga yang dipercaya oleh masyarakat, selain MPR, adalah TNI, Polri, KPK, dan Presiden. Hal demikian wajib disyukuri", papar Wawan.

Ia menambahkan MPR bisa dipercaya masyarakat sebab MPR dalam pengambilan keputusan selalu mengedepankan musyawarah mufakat dan pola kerja yang bersifat gotong royong.

(ega/ega)