Tekan Biaya Berobat, Ketua MPR Ingin Pajak Alat Kesehatan Dikurangi

Yudistira Imandiar - detikNews
Jumat, 11 Sep 2020 21:49 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta pemerintah tidak mengenakan pajak barang mewah terhadap alat kesehatan. Bamsoet menilai hal itu akan meringankan beban operasional rumah sakit dan berdampak pada kemudahan rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

Bamsoet membandingkan, di Malaysia beberapa alat kesehatan nilai pajaknya sudah hampir nol persen. Alhasil biaya berobat di Negeri Jiran menjadi lebih murah dibandingkan di Indonesia.

"Sejak pandemi COVID-19, pemerintah Indonesia memang sudah membebaskan pajak barang alat kesehatan. Namun hanya sebatas untuk penanganan COVID-19, belum keseluruhan barang alat kesehatan. Jika pajak untuk seluruh alat kesehatan minimal bisa diperlakukan seperti di Malaysia, tentu akan membawa angin segar bagi dunia kedokteran Tanah Air," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (11/9/2020).

Ketua DPR RI ke-20 ini memaparkan, riset Patients Beyond Borders mengungkap warga Indonesia sangat gemar berobat ke luar negeri. Peningkatannya cukup tajam, dari 350 ribu warga yang berobat ke luar negeri di tahun 2006 menjadi 600 ribu di tahun 2015. Total pengeluaran per tahun yang dikeluarkan penduduk Indonesia untuk berobat ke luar negeri bisa mencapai US$ 11,5 miliar, dan 80 persennya dihabiskan di Malaysia.

"Selain karena biayanya yang lebih murah dan pelayanannya lebih nyaman, warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri karena alat kesehatannya yang sangat lengkap. Padahal dengan sumber daya manusia dan sumber daya rumah sakit yang dimiliki, Indonesia sebetulnya bisa menjadi tuan rumah bagi warganya dalam berobat. Bahkan Indonesia seharusnya bisa menjadi pemain utama dalam wisata medis. Menjadi tempat yang nyaman bagi warga dunia berobat," urai Bamsoet.

Selain membahas pajak alat kesehatan, saat bertemu dengan perwakilan Ikatan Dokter Indonesia di ruang kerjanya, Bamsoet mengungkapkan belasungkawa atas banyaknya anggota IDI dan PDGI yang wafat akibat COVID-19. Menurut data IDI tercatat sudah ada 109 anggota yang wafat. Sementara itu, dari PDGI sudah ada 12 anggota yang wafat.

"Kita berdoa semoga para dokter yang wafat bisa ditempatkan di dalam surga Tuhan Yang Maha Esa. Agar perjuangan para dokter yang berada di garis terdepan melawan COVID-19 tak sia-sia, sangat penting bagi masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan yang sebenarnya tak terlalu sulit. Cukup pakai masker, jaga jarak, dan rajin mencuci tangan. Hal kecil seperti itu jika dilakukan bisa menyelamatkan nyawa kita semua," ulas Bamsoet.

(akn/ega)