Mengenang Setahun Wafatnya BJ Habibie Lewat Kisah Masa Mudanya

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 11 Sep 2020 17:57 WIB
BJ Habibie
Foto: Instagram @b.jhabibie/Mengenang Setahun Wafatnya BJ Habibie Lewat Kisah Masa Mudanya
Jakarta -

Presiden ke-3 RI BJ Habibie, tutup usia pada 11 September 2019 di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun. Hari ini, tepat setahun wafatnya pria kelahiran Parepare 25 Juni 1936 itu.

Bagi Indonesia, BJ Habibie dikenal sebagai "Bapak Pesawat". Gebrakan awalnya merancang proyek pesawat CN-235 bersama-sama dengan para insinyur dari perusahaan Spanyol, CASA yang prototipenya berhasil mengudara pada akhir 1983.

Sukses menuntaskan proyek CN-235 bersama CASA membuat Habibie dan timnya dari IPTN percaya diri bahwa mereka juga mampu merancang pesawat sendiri. Dirancanglah pesawat baling-baling dengan daya angkut sekitar 50 penumpang dan bisa diperbesar hingga 70 penumpang

Proyek ini kemudian dinamai N-250. Pada N-250 saat itu dipasang sistem kendali fly by wire. N-250 disebut jadi pesawat baling-baling pertama dengan sistem kendali canggih ini. Habibie pun mengirimkan ratusan anak buahnya untuk bersekolah dan magang di perusahaan-perusahaan pesawat terbang di luar negeri.

Seminggu sebelum ulang tahun emas kemerdekaan Indonesia, pada 10 Agustus 1995 pukul 09.40 WIB, Gatotkaca, nama yang diberikan Presiden Soeharto kepada N-250 terbang meninggalkan landasan Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Habibie juga dikenal dengan sosok yang memiliki IQ tinggi yakni 160. Pria beranak dua itu karirnya juga cemerlang. Dia mulai kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954.

Kemudian dia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, Pada 1955-1965. Dia sempat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998 dan menjadi Wakil Presiden ke-7 sejak 14 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998.

Kisah cintanya dengan istrinya, Hasri Ainun Habibie. Kisah cinta keduanya bermula dari bangku sekolah. Keduanya saling memperhatikan saat duduk di bangku SMA Kristen Dago Bandung, Jawa Barat.

Kemudian komunikasi terputus setelah Habibie melanjutkan kuliah dan bekerja di Jerman. Ainun tetap di Indonesia dan berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. BJ Habibie lalu menikah dengan Ainun pada 12 Mei 1962 di Ranggamalela, Bandung.

Habibie dan Ainun dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Ainun meninggal terlebih dulu pada 22 Mei 2010 karena kanker leher rahim. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Makam keduanya pun berdampingan.

Tidak banyak yang tahu masa muda Habibie. Dalam Buku 'Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner karya Gina S Noer disebutkan masa muda Habibie.

Berikut kisah masa muda BJ Habibie:

1. Hobi Baca Buku Belanda

BJ Habibie sejak kecil kerap bertanya apa saja kepada papinya. Papinya akan menjawab pertanyaan Habibie dengan bahasa yang dimengerti anak-anak. Untuk menjawab keingintahuan anaknya, papinya, Alwi Abdul Jalil Habibie, membelikannya buku. Sehingga pada usia 4 tahun BJ Habibie sudah mahir membaca.

Karena itulah buku menjadi cinta pertama BJ Habibie. Dia membaca buku ensiklopedia hingga buku cerita. Buku karya kumpulan karya Leonardo Da Vinci dan cerita fiksi ilmiah karya Jules Verne adalah buku favoritnya. Nah, semua bukunya dalam bahasa Belanda dan punya kata sulit yang tidak bisa dipahami anak seumur Rudy. Dia pun bolak-balik bertanya tentang arti kata. Sehingga orangtuanya pun membelikannya kamus bahasa Belanda. Keluarga BJ Habibie juga berkomunikasi dengan bahasa Belanda.

2. Dipanggil Rudy oleh Keluarganya

BJ Habibie sejak kecil dipanggil Rudy oleh keluarganya. Dia dipanggil Habibie oleh guru ngajinya. Untuk mendalami agama, papinya semua anak-anaknya belajar mengaji kepada Hasan Alamudi, seorang guru ngaji di Parepare. Hasan Alamudi memanggil Rudy dengan nama Habibie.

3. Joki Ulung

Habibie adalah joki yang sangat ulung dan lincah yang mampu mengendalikan La Bolong atau si Hitam, kuda balap kelas satu. Di atas kuda, Habibie menjadi garang dan tangguh. Karena umurnya yang masih muda, papinya khawatir dengan cara Habibie mengendalikan kuda. Papinya pun menunjuk Teddy Boekoesoe untuk menjadi ko-pilotnya.

Namun ternyata, Habibie lebih pandai mengendalikan kuda dibanding Teddy. Teddy dilempar oleh La Bolong hingga terjungkal dan nyaris terjadi hal yang fatal. Papi pun membawa Teddy ke rumah sakit.

4. Saling Melengkapi dengan Adik

Kelakuan BJ Habibie berbeda 180 derajat dengan adiknya, Fanny, adik laki-lakinya yang berbeda umur setahun. Habibie dan Fanny bagai dua sisi mata uang. Dengan karakter yang bertolak belakang, mereka bisa melengkapi satu sama lain.

Fanny adalah anak flamboyang dan bandel. Dia bisa bertahan hidup karena genius menghadapi perilaku manusia. Sedangkan Rudy dapat bertahan hidup karena genius dalam bidang eksakta. Kalau Habibie membeli sesuatu pasti Fanny akan dibelikan. Hal tersebut terus berlanjut sampai mereka dewasa. ketika pelantikan Fanny sebagai Dirjen Perhubungan Laut, Habibie menghadiahkan jam yang sama dengan miliknya.

Pernah suatu ketika, Fanny tengah sibuk dengan pekerjaannya di Tanjung Priok. BJ Habibie mengatakan harus segera datang karena keadaan gawat. Fanny buru-buru dan menyaksikan Habibie tengah bengong di pinggir jalan.

Ternyata kunci mobil Habibie ketinggalan di dalam dan Fanny mengambil obeng. Namun Habibie protes sebab jika dirusakkan kuncinya maka harganya mahal. Akhirnya Habibie menyarankan Fanny untuk memecahkan kaca mobil dengan batu. Gagasan itu akan muncul dari Habibie dan Fanny yang akan melaksanakannya. Konsep itu mereka anut sejak kecil.

(nwy/pal)