Info Haji
Mina Dibanjiri SMS Kabar Bohong
Kamis, 12 Jan 2006 03:00 WIB
Mina - Kabar bohong menggelinding kencang melalui SMS yang diterima para jamaah haji Indonesia dan para petugas haji Indonesia yang saat ini sedang berada di Mina, Arab Saudi, Rabu (11/1/2006) sore hingga malam. Kabar ini begitu cepat menggelinding, bagaikan air yang mengalir deras. Banyak jamaah yang panik. Siapa yang berbuat? Kabar bohong pertama yang menggelinding dan sangat mengejutkan para jamaah haji dan petugas haji Indonesia adalah tentang kabar bahwa ada 170 jamaah haji Indonesia yang meninggal akibat terinjak-injak di jamarat. Informasi ini kabarnya dilansir oleh salah satu televisi di Indonesia. Begitu ada info itu, SMS pun membanjir dengan deras ke telepon genggam para jamaah haji dan petugas haji. Jamaah haji panik dan petugas haji Indonesia sempat dibuat sibuk. Semua pihak mengecek kebenaran informasi itu. Sangat banyak jamaah haji Indonesia yang datang ke Kantor Posko Misi Haji Indonesia untuk menanyakan kebenaran informasi itu. Setelah dicek ke sejumlah pihak, Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Nur Samad Kamba memastikan tidak ada tragedi jamarat yang menewaskan 170 jamaah haji Indonesia. Bantahan juga disampaikan Kepala Satgas Mina Ahmad Kartono. "Setelah dicek, intinya kabar itu tidak jelas sumbernya," kata Kartono. Wakasastgas Bidang Pelayanan Kesehatan Mina dr Anasrul S Rahman juga termasuk salah seorang yang dibuat sibuk oleh isu ini. "Bukan sibuk lagi, tapi bikin puyeng," aku Anasrul kepada detikcom, Rabu (11/1/2006) malam. Begitu ada isu itu, Anasrul langsung mengontak Tim Sanitasi dan Surveilans (Sansur) yang ada di RS Attawari, Muaisim. Biasanya, jamaah haji yang meninggal dunia di jamarat karena musibah, akan dilangsung dilarikan ke RS ini. "Setelah dicek, tidak ada jamaah haji Indonesia yang meninggal dunia seperti kabar itu. Pergerakan ambulans di RS itu juga tidak luar biasa, tidak ada ambulans yang keluar masuk membawa jenazah yang banyak," kata Anasrul. Salah seorang petugas haji bernama Farid juga mendapat sejumlah SMS dari kerabatnya di tanah air. Bahkan, tidak hanya SMS, tapi banyak anggota keluarganya yang langsung telepon dari tanah air menanyakan kabar itu. Farid wajar saja mendapat banyak SMS dan telepon dari kerabatnya di tanah air. Sebab, selain dirinya yang berada di Tanah Suci, juga ada 4 saudaranya yang sedang menjadi jamaah haji. "Saya langsung diminta mengecek anggota keluarga saya. Apalagi saat itu kabar menyebutkan ada 800 jamaah yang meninggal," ujar dia. Menurut dia, isu yang lebih ganas yang beredar jelas-jelas menyebutkan ada 10 jamaah haji Indonesia yang tergabung dalam Maktab 37 yang meninggal dunia terinjak-injak. "Kebetulan saudara saya masuk dalam Maktab 37 itu. Mereka berasal dari kloter 35 JKS," ungkap dia. Farid langsung mengecek ke Maktab 37. Dan alhamdulillah, semua anggota keluarganya selamat. Yang lebih menggembirakan, semua jamaah haji yang berada di Maktab 37 tidak ada yang jadi korban. Farid juga mengecek kepada PPIH dan mendapat kepastian bahwa tidak ada musibah apa pun di jamarat. Selain tentang musibah jamarat, juga ada kabar bohong lainnya yang juga menggelinding lewat SMS. Info lewat SMS itu menyebutkan bahwa terjadi kericuhan di terowongan Mina, karena listrik mati. Namun, hingga pukul 22.40 Waktu Arab Saudi (WAS), listrik di terowongan Mina tetap menyala, kipas angin juga masih berputar kencang. Juga ada informasi bohong lainnya yang menyatakan 2 jamaah haji Indonesia terjatuh di septic tank sedalam 4 meter di perkemahan di Mina. Namun, setelah ditelusuri, kabar ini tidak benar. Mengapa kabar-kabar bohong ini bisa muncul? Siapa di balik pembuat isu yang tidak bertanggung jawab ini? Mungkin layak ditelusuri oleh pemerintah, apalagi sudah berapa banyak rupiah yang dipakai keluarga di Indonesia untuk ber-SMS atau menelepon anggota keluarganya yang saat ini di Arab Saudi.
(asy/)











































