Musibah Jamarat Nihil, Tidak Ada Jamaah Haji RI yang Jadi Korban
Kamis, 12 Jan 2006 00:32 WIB
Mina -
Jamaah haji Indonesia yang berada di Mina, Arab Saudi dikejutkan dengan info lewat SMS yang dikirimkan anggota keluarganya di tanah air. Infonya cukup bombastis: "ada 170 jamaah haji Indonesia meninggal dan terinjak-injak di jamarat." Entah dari mana informasi yang mengejutkan itu. Yang jelas, tidak ada musibah di Mina. Informasi itu cepat menyebar di tanah air. Para jamaah haji yang saat ini sedang mabit di Mina juga dibuat sibuk oleh berderingnya SMS dari banyak keluarga mereka yang menanyakan benar tidaknya informasi itu dan keselamatan mereka. Banyak juga jamaah haji yang datang ke Posko Misi Haji Indonesia yang berada sekitar 200 meter dari mulut terowongan Mina. Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang juga Ketua Staf Teknis Urusan Haji Indonesia, Nur Samad Kamba juga mendapat pertanyaan serupa dari jamaah haji Indonesia. Bahkan, sekitar pukul 19.00 Waktu Arab Saudi, Rabu (11/1/2006), Nur Samad ditelepon langsung oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni yang mengkonfirmasi dan menanyakan kebenaran informasi itu. Nur Samad yang langsung memantau kondisi Mina membantah berita musibah itu. "Baru saja Pak Menteri telepon menanyakan hal serupa. Tapi, setelah saya kumpulkan informasi dari semua pos kita di jamarat, tidak ada musibah apa-apa," kata Nur Samad. Di kawasan jamarat, PPIH memang mendirikan banyak pos yang ditandai dengan pengibaran bendera Merah Putih di berbagai persimpangan jalan. Sekitar 400 meter dari jamarat, juga didirkan Poskotis yang salah satu fungsinya memantau kejadian yang terjadi Mina. Setiap informasi yang ada, selalu dikomunikasikan oleh para komandan lapangan ke Posko Misi Haji Indonesia melalui handy talky (HT). Nur Samad juga menegaskan, pihaknya sudah mengecek RS-RS di Mina, tidak ada jamaah haji Indonesia yang meninggal dunia seperti informasi yang beredar di kalangan luas. "RS sudah kami cek, dan ternyata tidak ada. Bahkan, menurut RS, tidak ada musibah yang terjadi," ungkap dia. Bisa saja sumber berita menduga-duga adanya kejadian itu, karena ada sejumlah ambulans Indonesia yang masuk ke kawasan jamarat. "Padahal, ambulans-ambulans itu mengangkut jamaah-jamaah yang sakit, atau kelelahan dan tidak kuat berjalan," ujar Nur Samad. Dodi Yarli Rusli, salah seorang petugas haji yang melempar jumrah pada pukul 17.30 WAS, juga mengaku tidak melihat kejadian apa-apa. Hanya saja terjadi penumpukan jamaah di sepanjang jalan menuju jamarat. "Jamaah memang padat, tapi tidak ada musibah seperti kabar yang beredar," kata pria asal Padang yang masih studi di Mesir ini. Di dekat jamarat, memang banyak dikerahkan banyak polisi dan tentara Arab Saudi. Mereka membuat pagar betis, agar jamaah yang berangkat menuju jamarat dan pulang menuju perkemahan di Mina tidak bentrok. Untuk diketahui, informasi tentang musibah di jamarat yang memberitakan ada 170 jamaah haji Indonesia yang meninggal terinjak-injak disiarkan oleh salah satu televisi nasional malam hari waktu Indonesia. Tidak jelas, dari sumber mana televisi itu mendapatkan berita itu. Menurut salah seorang jamaah haji Indonesia, keluarganya di tanah air memberitahukan bahwa dalam berita itu, televisi tersebut memperlihatkan gambar suasana kawasan jamarat yang penuh sesak. Namun, tidak ada gambar tentang musibah itu.
(asy/)










































