Ma'ruf Amin Ungkap Masih Ada Pihak yang Pertentangkan Pancasila dan Agama

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 10 Sep 2020 15:34 WIB
Wakil Presiden Maruf Amin
Wapres Ma'ruf Amin (Dok. Setwapres)
Jakarta -

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengungkapkan, saat ini masih ada pihak yang mempertentangkan Pancasila dengan ajaran agama. Namun, kata Ma'ruf, upaya itu tidak akan pernah berhasil.

"Dalam perjalanan bangsa Indonesia sejak Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 kita mencatat banyak pihak yang berupaya mempertentangkan antara Pancasila dengan ajaran agama. Sampai saat ini pun upaya-upaya seperti itu masih terus terjadi. Saya berkeyakinan insyaallah upaya-upaya tersebut tidak akan pernah berhasil," kata Ma'ruf dalam pembukaan Simposium Nasional BPIP secara virtual, Kamis (10/9/2020).

Ma'ruf mengatakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan turunan dari ajaran agama. Selain itu, Pancasila sudah menjadi kesepakatan nasional.

"Orang yang masih mempertentangkan antara Pancasila dan agama adalah termasuk yang mis-persepsi. Bisa saja mis-persepsi dari pemahaman agamanya atau dari pemahaman Pancasilanya," ujar Ma'ruf.

Dia menjelaskan Pancasila harus dipahami secara utuh dan tidak boleh dipahami secara parsial. Lewat pemahaman yang komprehensif, kata Ma'ruf, Pancasila tidak boleh didorong ke arah pemahaman yang menyimpang.

"Di sisi lain, agama juga seharusnya dipahami secara moderat dengan tanpa mengorbankan ajaran-ajaran dasar agama; dan sebaliknya, bukan pemahaman yang bersifat radikal, ekstrem, atau liberal," tutur Ma'ruf.

Selain itu, Ma'ruf mengatakan Pancasila mempunyai nilai-nilai yang kuat untuk menjaga kerukunan masyarakat dan kehidupan umat beragama. Pancasila telah terbukti menciptakan integrasi nasional.

"Oleh karena itu, kita harus mampu menangkal berkembangnya paham-paham yang mengancam Pancasila dan persatuan nasional. Padahal persatuan nasional merupakan prasyarat bagi terwujudnya stabilitas nasional, sementara stabilitas nasional merupakan prasyarat bagi kelancaran dan keberhasilan pembangunan nasional," tutur Ma'ruf.

(knv/fjp)