Catatan Krusial PSBB DKI Awal Corona: Nasib Ojol Hingga Data Bansos

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 10 Sep 2020 12:16 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengecek kesiapan mal jelang dibuka saat masa PSBB Transisi 15 Juni.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (Luqman Nurhadi Arunanta/detikcom)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menarik rem darurat dengan kembali memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara total. Ada beberapa catatan krusial terkait PSBB total yang berlaku saat awal Corona bulan April.

Pada saat awal Corona, PSBB DKI Jakarta berlaku dari 10 hingga 23 April 2020. Aturan tentang PSBB ini tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 33 Tahun 2020.

Kegiatan perkantoran dihentikan, gedung sekolah ditutup, ojek online dibatasi, hingga warga tidak boleh berkerumun. Semua orang wajib melaksanakan protokol kesehatan pencegahan COVID-19, termasuk mengenakan masker bila sedang di luar rumah.

Ada sejumlah masalah krusial dalam aturan PSBB yang sempat menjadi polemik. Berikut ini sejumlah catatan krusial saat PSBB awal Corona.

1. Ojek Online Dilarang Mengangkut Penumpang

Selama PSBB, ojek online maupun ojek pangkalan dilarang mengangkut penumpang. Anies mengacu pada Permenkes No 9 Tahun 2020 dan diadaptasi ke dalam aturan PSBB DKI Jakarta dalam Pergub 33 Tahun 2020.

Namun Menhub ad interim ketika itu Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan ojol boleh mengangkut penumpang. Polemik pun muncul. Luhut mempersilakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melarang ojol bawa penumpang.

"Dengan Gubernur DKI sudah saya sampaikan silakan saja (melarang ojol)," tegas Luhut dalam video conference bersama wartawan, Selasa (14/4/2020).

Untuk diketahui, Permenhub 18 Tahun 2020 Pasal 11 ayat 1d menyatakan, dalam hal tertentu, untuk tujuan melayani kepentingan masyarakat dan untuk kepentingan pribadi, sepeda motor dapat mengangkut penumpang dengan ketentuan harus memenuhi protokol kesehatan.

Penerapan aturan yang diteken Luhut ini dikembalikan ke daerah. Pasalnya, karakteristik daerah di Indonesia berbeda-beda.

Larangan ini akhirnya berakhir ketika masuk bulan Juni. Anies mengatakan transportasi umum sudah bisa beroperasi dengan kapasitas penumpang setengahnya atau 50 persen dengan protokol pencegahan COVID-19.

"Kendaraan umum sudah bisa beroperasi dengan 50 persen kapasitas dan dengan menerapkan prinsip jaga jarak. Lalu, kendaraan nonumum, seperti ojek dan mobil, bisa operasi dengan protokol COVID-19," jelas Anies dalam konferensi pers virtual, Kamis (4/6/2020).

Tonton juga video 'PSBB DKI Diperketat, Ini Deretan Aktivitas yang Dibatasi':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3