CSIS: Petahana-Biaya Politik Mahal Jadi Faktor Calon Tunggal Meningkat

Yulida Medistiara - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 19:24 WIB
ilustrasi pilkada serentak 2015
Ilustrasi Pilkada (Zaki Alfarabi/detikcom)
Jakarta -

Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandez, memaparkan faktor calon tunggal meningkat di Pilkada 2020. Salah satunya karena petahana dan biaya politik yang mahal.

"Ada beberapa asumsi yang pertama adalah kondisi yang mempengaruhi calon tunggal menguat adalah faktor petahana," kata Arya dalam Diskusi Publik LHKP PP Muhammadiyah Oligarki Parpol dan Fenomena Calon Tunggal yang ditayangkan di YouTube Rumah Pemilu, Rabu (9/9/2020).

Ia mengatakan sebanyak 23 dari 28 daerah yang diikuti calon tunggal merupakan calon petahana. Calon petahana maju kembali di pilkada karena memiliki elektabilitas dan finansial yang kuat.

Adapun faktor kedua mengapa calon tunggal menguat di Pilkada 2020 adalah faktor biaya politik yang mahal. Pada masa pandemi COVID-19, biaya politik mahal, sementara kampanye dibatasi sehingga diduga kandidat yang kurang populer akan berpikir ulang mengikuti kontestasi pilkada, sementara itu parpol juga akan berpikir-pikir mengenai siapa calon yang didukung.

"Dalam situasi tersebut, faktor pandemi yang menambah mahalnya biaya politik, ditambah waktu yang panjang, situasi bisnis yang nggak pasti, akan membuat kandidat yang berpeluang mendapatkan dukungan adalah petahana dan pengusaha. Karena dia punya modal politik dan ekonomi, karena mereka yang punya saving hari ini, yang punya cash banyak," ungkapnya.

Selanjutnya adalah faktor sistem pencalonan internal partai. Untuk mengajukan pencalonan alternatif dibutuhkan persyaratan yang tidak mudah karena membutuhkan sejumlah kursi di DPRD.

Lebih lanjut Arya mengatakan faktor basis partai mempunyai kontribusi terhadap menguatnya calon tunggal di pilkada. Ia mengatakan ternyata daerah yang diisi calon tunggal adalah basis partai tertentu.

"Ternyata di sebagian besar daerah yang diisi calon tunggal, mayoritas itu ternyata adalah basis kuat salah satu partai di Kebumen, Wonosobo, Boyolali, Semarang, Grobogan, Badung, Ngawi, Kediri, dll. Calon tunggal, pada saat itu daerah itu dikuasai basis salah satu partai," ungkapnya.

Berdasarkan catatan sementara Bawaslu, hingga saat ini terdapat 28 daerah yang diikuti bakal calon tunggal di Pilkada 2020. Sebanyak 12 di antaranya merupakan calon tunggal yang terkait dengan PDIP.

"Saya menemukan bahwa 12 dari 28, itu hampir setengah daerah yang punya calon tunggal ternyata punya hubungan dengan PDIP," katanya.

Pertama, dari 12 itu, kader PDIP yang maju sebagai kepala daerah ada di 10 daerah. Dari 10 calon kepala daerah kader PDIP tersebut 8 diantaranya adalah petahana, 1 dinasti di Kediri, 1 dari DPRD.

Kemudian dari 12 itu, 2 calon PDIP maju sebagai wakil bupati petahana, dan 1 pengusaha. Arya mengatakan pengusaha tersebut juga mempunyai hubungan kekerabatan dengan PDIP.

"Jadi kalau kita lihat hampir setengah calon tunggal itu punya hubungan politik, mayoritas sebagai kader, semuanya mungkin kader PDIP. Jadi faktor partai itu mempengaruhi," katanya.

(yld/tor)