Profil Jakob Oetama, Tokoh Pers Indonesia yang Tutup Usia

Lusiana Mustinda - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 15:48 WIB
Jakob Oetama
Foto: Jakob Oetama (Ilustrator:Edi Wahyono, Infografis: Zaki Alfarabi/detikcom)
Jakarta -

Jakob Oetama meninggal dunia pada Rabu (09/09/2020) pukul 13.05 WIB di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta.

Jakob Oetama merupakan seorang jurnalis senior Indonesia yang dikenal sebagai pendiri sekaligus pemilik beberapa kelompok usaha Kompas Gramedia Grup. Jakob Oetama lahir di Borobudur, Magelang pada 27 September 1931. Almarhum wafat di usia yang memasuki 88 tahun.

Berikut profil Jakob Oetama:

1. Bercita-cita sebagai pastor

Dikutip dalam buku 'Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama' oleh St Sularto menyebutkan bahwa awalnya Jakob Oetama bercita-cita ingin menjadi pastor. Maka setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pangudi Luhur, Yogyakarta di tahun 1945 ia masuk seminari menengah di Yogyakarta, jenjang terendah dalam proses pendidikan calon imam Katolik.

Lulus pada 1952, Jacob sempat mengikuti pendidikan lanjutan di seminari tinggi. Namun hanya tiga bulan berada di asrama Jakob memutuskan untuk mundur.


2. Pendidikan

- Seminari Menengah (1945-1951)
- Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta (1955-1959)
- Jurusan Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada (1956-1961)

3. Karier

Jakob Oetama memulai karier pada tahun 1950 dengan mengajar di beberapa sekolah mengikuti jejak ayahnya Raymundus Josef Sandiya Brotosoesiswo seorang guru Sekolah Rakyat. Di mata Jakob, guru merupakan profesi yang mengangkat martabat.

Namun dia juga tertarik menjadi wartawan karena kegemarannya menulis. Minat ini semakin bertumbuh setelah mendalami ilmu jurnalistik di Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta dan Jurusan Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada.

Pada tahun 1955 Jakob menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Pada Agustus 1963, Jakob bersama dengan Petrus Kanisius Ojong bersama mendirikan majalah Intisari. Lalu kemudian Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Achmad Yani mengusulkan kepada Drs. Frans Seda, Ketua Partai Katolik agar partainya memiliki sebuah media.

Frans Seda lalu menghubungi dua rekan yang berpengalaman menangani media massa, yaitu PK Ojong dan Jakob Oetama. Akhirnya dari tangan duet Jakob dan PK Ojong berdirilah Koran Kompas yang terbit perdana 28 Juni 1965.

Perusahaan media yang dipimpin oleh Jakob terus berkembang pesat, baik Intisari dan juga Kompas. Ia pun melebarkan sayapnya ke berbagai bidang lain termasuk perhotelan dan universitas.

Berikut rincian perjalanan karier Jakob Oetama:

- Guru SMP Mardijuwana, Cipanas (1952-1953)
- Guru Sekolah Guru Bantu (SGB), Bogor (1953-1954)
- Guru SMP Van Lith, Jakarta (1954-1956)
- Redaktur Mingguan Penabur (1955-1955)
- Ketua Editor- Pimpinan majalah bulanan Intisari (1963-2016)
- Ketua Editor-Pimpinan Harian Kompas (1965-2016)
- Presiden Komisaris Kompas Gramedia (1980-2020)

4. Penghargaan

Berkat pengabdiannya, Jakob Oetama mendapatkan beberapa penghargaan. Salah satunya adalah gelar Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi dari Universitas Gajah Mada dan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973.

(lus/pal)