Siasati Bisnis Makanan Jadi Frozen Food, Bikin Untung di Masa Pandemi

Abu Ubaidillah - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 13:53 WIB
Grab Indonesia
Foto: Dok. Grab Indonesia
Jakarta -

Gara-gara pandemi COVID-19, sejumlah pelaku usaha makanan harus mengalami penurunan omzet. Hal ini juga dialami oleh pemilik Se'iasekata, Lydia. Ia mengaku omzetnya menurun sehingga ia dan suaminya, Ferric harus memutar otak menemukan inovasi agar bisa bangkit saat pandemi.

"Omzet mulai menurun. Jadi, aku dan Ferric, suamiku, mulai mikirin, harus ada inovasi nih kita kerjain. Dari situ terlintas, kenapa nggak masakan kita dibikin frozen (beku)," kata Lydia seperti dilansir dari Instagram @grabid, Rabu (9/9/2020).

Lydia mengaku sebetulnya ini merupakan ide pelanggan karena ada kalanya mereka ingin membawa makan untuk oleh-oleh ke luar kota. Menu frozen pun akhirnya dihadirkan dari bulan Maret 2020.

"Semua kita coba dulu. Masa simpan berapa lama, kuat nggak, karena kita tanpa pengawet. Setelah kita coba, dan rasanya sama seperti saat dine-in, tidak berubah walau frozen, baru kita jual", cerita Lydia.

Selain berinovasi menghadirkan menu frozen, Lydia juga pada masa pandemi mulai menjual menu inovasi ini secara online. Diakui oleh Lydia, ini adalah yang pertama kalinya dan sebelumnya Lydia tidak kepikiran untuk menjual secara online.

"Sekarang ada GrabFood pesanan bisa diantar. Ada toko online ya bisa jual sampai luar kota" tambahnya.

Awalya, Lydia sempat tidak memikirkan profit, baginya yang terpenting bisnisnya bisa terus bertahan dan membayar gaji 4 karyawannya. Nyatanya bukan cuma bertahan, dengan berjualan secara online, Sei'iasekatra bisa profit.

"Nggak terasa Sei'asekata udah setahun. Persis Juni tahun lalu kita buka di pasar, menu Sei sapi dan ayam. Setahun kemudian, ada menu frozen, di online. Kalo pesen frozen, sama, masing-masing ada sambal khas Kupangnya", lanjut Lydia.

Lydia bercerita jika nama Se'iasekata merupakan ide suaminya.

"Sei ini dari Kupang. Tapi kok kayanya nggak pingin pakai nama Kupang. Akhirnya dirangkai dari Sei, 'Gimana kalo Se'iasekata?' kata Ferric," kisah Lydia.

Usulan ide itu diterima oleh Lydia. Selain karena tren, juga ada nama bahasa Indonesia. Diakui olehnya nama juga memiliki pengaruh karena orang menyukainya sehingga jualan pun bisa jalan.

(prf/ega)