Round-Up

Pernyataan Menag Agen Radikalisme 'Good Looking' Berbuntut Panjang

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 21:33 WIB
Menag Fachrul Razi
Menag Fachrul Razi (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Pernyataan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi yang mengungkap strategi paham radikal masuk di lingkungan ASN dan masyarakat melalui seorang anak good looking atau berparas menarik berbuntut panjang. Sejumlah pihak mengkritik dan mengecam apa yang diungkap Menag Fachrul itu.

Fachrul menyampaikan pernyataan itu di acara webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara' yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB, Rabu (2/9). Awalnya Fachrul menjelaskan paham radikal di lingkungan ASN harus diwaspadai saat dia pertama kali masuk dan dengan cara apa dia masuk.

"Kalau kita bicara tentang radikalisme ASN, banyak tempat yang perlu kita waspadai. Tempat pertama adalah pada saat dia masuk. Kalau tidak kita seleksi dengan baik, khawatir kita benih-benih atau pemikiran-pemikiran radikal itu akan masuk ke pemikiran ASN," kata Fachrul mengawali diskusi.

Fachrul kemudian meminta KemenPAN-RB atau instansi lainnya yang berkaitan menyeleksi ASN harus betul-betul memperhatikan itu. Lalu dia mengatakan ada kemungkinan radikalisme itu masuk dengan dua cara, yakni melalui lembaga pendidikan dan di rumah ibadah.

"Kemungkinan kedua, masuknya, saya kira di lembaga pendidikan. Pada saat dia ASN, ada pendidikan-pendidikan, kursus-kursus. Nah, bisa masuknya melalaui itu. Nah, untuk itu, betul-betul kita waspadai di lembaga pendidikan kita, betul-betul pembimbing-pembimbingnya, dosen-dosennya, mereka-mereka yang memang bersih dari peluang-peluang radikalisme itu. Kalau nggak, masuknya dari sana," tutur Fachrul.

Selain melalui pendidikan, ada paham radikal yang masuk melalui rumah ibadah ASN atau di lingkungan masyarakat. Dia pun bercerita pernah mendeteksi adanya paham radikal di lingkungan kementerian, tapi dia tidak menyebut kementerian mana.

"Saya katakan di tempat institusi pemerintahan sangat banyak peluang untuk masuk pemikiran-pemikiran radikalisme. Sehingga saya pernah mengingatkan seorang menteri karena saya pernah salat Jumat di tempat itu. Mohon maaf kalau saya bilang salat Jumat, bukan berarti kalau radikal itu hanya Islam saja, bukan. Saya salat Jumat di masjid itu, saya terkejut. Saya WA menteri yang bersangkutan, 'Bu, ini bahaya sekali nih, kok saya salat Jumat di situ khotbahnya menakutkan banget itu, kok bisa seperti itu masuk di kita'. Beliau bilang, 'Pak, dulu banyak lagi, sekarang sudah saya kikis habis, masih ada sisa-sisanya dikit, akan saya kikis habis lagi'. Jadi kembali ini, luar ibadah bukan hanya di luar sana. Di dalam BUMN, di lingkungan pemerintahan pun masuk," ungkapnya.

Adapun cara paham radikal masuk adalah melalui orang yang berpenampilan baik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang bagus. Si anak 'good looking' ini, kata Fachrul, jika sudah mendapat simpati masyarakat, bisa menyebarluaskan paham radikal.

"Cara masuk mereka gampang. Pertama, dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-orang orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan," ucapnya.

"Sehingga memang kami, dan saya kira sepakat dengan Bapak Menteri PAN-RB untuk mewaspadai sekali bahwa rumah-rumah ibadah di lingkungan institusi pemerintah, pengurusnya harus pegawai pemerintah. Tidak boleh ada masyarakat di situ ikut jadi pengurus di sana. Dengan demikian, juga penceramah-penceramahnya diambil dari mereka-mereka yang kita yakini bicaranya tidak aneh-aneh di lingkungan masjid, di luar masyarakat juga demikian," sambung Fachrul.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3