Warga DKI Disebut Merasa Kebal Corona, Wagub Bicara Kepatuhan Saat PSBB

Muhammad Ilman Nafian - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 21:27 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.
Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria (Ilman/detikcom)
Jakarta -

Satgas Penanggulangan COVID-19 menyebut warga Jakarta merasa kebal terhadap virus Corona. Menanggapi hal itu, Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengaku masih akan mengecek data tersebut.

"Nanti kita cek datanya," ujar Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (4/9/2020).

Riza mengatakan warga di Jakarta paling awal menyikapi pandemi COVID-19. Pada masa awal pandemi, Pemprov DKI langsung membuat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dengan meminta warga bekerja dan sekolah di rumah. Sejak saat itu, kara Riza, warga mulai mematuhi aturan.

"Memang masyarakat Jakarta lebih dulu menyikapi pandemi COVID. Caranya, dulu Gubernur lebih awal minta bekerja di rumah, sekolah di rumah, beribadah di rumah. PSBB mulai, masyarakat patuh, taat," ucapnya.

Menurut Riza, saat itu lebih dari 60 persen warga Jakarta berada di rumah saat PSBB. "Data lebih dari 60 persen masyarakat Jakarta ada di rumah," kata Riza.

Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengungkapkan masih ada masyarakat yang menganggap diri mereka kebal atau tidak akan tertular COVID-19. Doni menyebut ada lima provinsi tertinggi yang masyarakatnya masih menganggap kebal terhadap virus Corona.

"Data beberapa bulan lalu terhadap lima provinsi adalah masih adanya masyarakat menganggap dirinya itu tidak mungkin kena COVID, yang tertinggi ternyata adalah di DKI Jakarta, yang kedua di Jawa Timur," kata Doni dalam rapat di Komisi VIII DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/9).

Dalam presentasi yang ditampilkan Doni, Provinsi DKI Jakarta memiliki persentase tertinggi yang masyarakatnya merasa tidak berisiko tertular COVID-19, yaitu 30 persen. Disusul Jawa Timur dengan 29,20 persen, Jawa Tengah 18,30 persen, Jawa Barat 16,70 persen, dan Kalimantan Selatan 14,90 persen.

"Jadi, kalau kita lihat, hari ini angka kasus di Jakarta dan Jawa Timur masih tinggi, mungkin data yang dikumpulkan tentunya mungkin sudah lumayan akurat. Berikutnya di Jawa Tengah dan di Jawa Barat serta di Kalimantan Selatan," ungkapnya.

(man/idn)