Ogah Layani Pentolan PAN Reformasi, Mumtaz: Mozin Pansos!

Eva Safitri - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 18:07 WIB
Ahmad Mumtaz Rais (Dok. Mumtaz Rais).
Foto: Ahmad Mumtaz Rais (Dok. Mumtaz Rais).
Jakarta -

Loyalis Amien Rais, Agung Mozin, menilai Ketua DPP PAN Mumtaz Rais sebagai anak di luar adab karena terkesan menyerang ayahnya sendiri terkait gerakan PAN Reformasi. Lantas apa kata Mumtaz?

Mumtaz enggan menanggapi banyak terkait anggapan di luar adab. Mumtaz menyebut dirinyalah yang tahu bagaimana hubungannya dengan sang ayah.

"Saya nggak perlu menanggapi penyataan dari si Mozin itu, karena jika saya tanggapi nanti malah saya yang degradasi. Dia jadi pansos, panjat sosial. Nanti kesenengan dia. Ha-ha-ha," kata Mumtaz Rais.

Mumtaz Rais justru merasa heran kenapa ada pihak yang ingin ikut campur urusannya dengan Amien Rais. Mumtaz menegaskan orang-orang seperti Mozin ini terkesan sok tahu.

"Yang pasti, Pak Amien adalah ayah kandung saya dan saya adalah bagian dari darah dagingnya. Hubungan ini yang paling tahu ya adalah kita berdua, makanya aneh saja tiba-tiba banyak pihak-pihak yang kepengin tahu, bahkan sudah menjurus ke sok tahu," ujar Mumtaz, ketika dihubungi, Jumat (7/9/2020).

Sebelumnya, Agung Mozin, geram dengan sikap Mumtaz. Hal itu karena Mumtaz terkesan menyerang ayahnya, karena menyebut partai yang akan dibuat Amien Rais sebagai PAN Halusinasi.

"Melihat sikap Mumtaz yang terkesan menyerang Pak Amien Rais sebagai ayahnya yang membesarkan sungguh sudah di luar adab masyarakat kita yang sangat religius, sehingga dapat kita nilai bahwa Mumtaz, yang menjadi Ketua OKK DPP PAN, begitu tega memperlakukan orang tuanya seperti itu, apalagi hanya orang-orang yang berstatus sebagai kader PAN," kata Agung kepada wartawan, Kamis (3/9/2020).

Menurut Agung, sikap Mumtaz tersebut merupakan gambaran sebagian besar elite PAN saat ini. Dia mempertanyakan, apakah petinggi-petinggi PAN menoleransi sikap tak terpuji Mumtaz.

"Apa yang dilakukan Mumtaz Rais sebagai ketua OKK PAN sungguh sangat memalukan, karena apa yang dia lakukan itu adalah sebuah potret kecil dari sebagian besar elite partai lama yang bukan hanya cemas dan panik, tapi menunjukkan sikap yang tidak terpuji," sebut Agung.

"Apakah sikap demikian buruk itu dapat ditoleransi oleh elite PAN, sehingga tidak bisa dihentikan cuma karena ada kecemasan berlebihan atas hadirnya PAN Reformasi?" imbuhnya.

(eva/gbr)