Sosialisasi 4 Pilar di Pesantren, Jazilul Dorong Santri Jadi Pengusaha

Yudistira Imandiar - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 11:05 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengunjungi Pondok Pesantren Al Istiqlal, Cianjur, Jawa Barat. Kunjungan pada Rabu (2/9) itu dilakukan untuk Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Jazilul yang didampingi anggota MPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), disambut langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al Istiqlal, KH. Ade Abdullah.

Kehadiran di tengah para santri dan pesantren mengingatkan Jazilul pada kenangan saat menjadi santri. Jazilul mengungkapkan santri, kiai, dan ulama mempunyai peran yang penting dalam sejarah perjuangan bangsa.

"NKRI merdeka juga berkat perjuangan para santri, kiai, dan ulama," kata Jazilul dalam keterangannya, Jakarta (4/9/2020).

Ia merunut dalam pertempuran di Surabaya yang terjadi pada tahun 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan para santri, kiai, dan ulama ikut turun berjuang. Jazilul berharap agar para santri dapat menjadi pengawal 4 Pilar agar Indonesia semakin kuat.

Sebagai kelompok masyarakat yang mempunyai peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa, pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu ingin agar kehidupan para santri dan pesantren semakin membaik.

Ia menjabarkan, berdasarkan UU Pesantren, lembaga pendidikan yang berdiri sejak Indonesia belum merdeka itu mempunyai tujuan yang mulia sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, lembaga dakwah, serta sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Namun, pada kenyataannya masih ada pesantren yang belum dapat merealisasikan tujuan dalam memberdayakan masyarakat.

Kondisi tersebut, menurut Jazilul bisa terjadi sebab para santri dan pesantren masih belum memiliki akses untuk mendapat alokasi anggaran negara.

"Pesantren belum diikutkan dalam program pemberdayaan masyarakat," tuturnya.

Oleh sebab itu ia berharap agar santri dan pesantren mempunyai akses untuk pengembangan diri agar mereka bisa lebih berkembang.

"Sehingga santri bisa menjadi pengusaha, salah satu contohnya," sebut Jazilul.

Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu mengatakan ada antropolog yang mengklasifikasi masyarakat Indonesia menjadi tiga, yakni santri, priyayi, dan abangan. Ia memaparkan, dulu yang menjadi bupati dan pejabat negara adalah dari kaum priyayi, sedangkan kaum santri dikatakan sebagai kelompok yang mampu mandiri.

"Yang memiliki usaha batik, rokok, dan usaha lainnya adalah dari kelompok santri," ulas Jazilul.

Ketika era reformasi, singgung Jazilul, kaum santri memiliki peluang menjadi apa saja. Banyak santri yang menempati pos-pos penting di berbagai sektor.

"Sehingga ada santri yang menjadi Presiden, gubernur, bupati, wali kota, dan jabatan penting lainnya," ungkap Jazilul.

Ia menambahkan, kemerdekaan Indonesia mempunyai tujuan melindungi segenap seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi. Namun, di banyak daerah masih terjadi kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Jazilul memaparkan, di daerah pertanian yang subur, Jazilul mengungkapkan, petani pun disebut belum sejahtera. Ia ingin pemerintah terus untuk memeratakan pembangunan agar tercipta kemakmuran.

"Tak ada manfaatnya bila penanaman ideologi tanpa dibarengi dengan kemakmuran," sambungnya.

Diharapkan dari pembangunan yang ada bisa membangun kesejahteraan dan kemakmuran yang merata.

"Pembangunan dilakukan agar kekayaan tak berputar pada satu kelompok," tegas Jazilul.

Di lain sisi, Jazilul merasa bangga sebab dirinya ikut mendorong lahirnya UU Pesantren dan UU Desa. Ia menilai, dua undang-undang tersebut membuat adanya jaminan dan bantuan yang perlu diberikan kepada pesantren dan desa.

"Dengan adanya UU Desa maka setiap desa sekarang mendapat anggaran dari APBN," kata Jazilul.

"Pun demikian dengan adanya UU Pesantren membuat lembaga pendidikan ini wajib untuk dibantu," lanjutnya.

(mul/ega)