Ambon Bebas Formalin, Tapi Tak Bebas Boraks

Ambon Bebas Formalin, Tapi Tak Bebas Boraks

- detikNews
Selasa, 10 Jan 2006 09:35 WIB
Ambon - Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengujian pihak Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Ambon menyatakan kota Ambon bebas formalin. Hanya saja, pada beberapa item makanan dan minuman ditemukan boraks. "ita sudah uji dari 13 item mie basah tidak ditemukan formalin maupun boraks. Sementara tahu tidak ada formalin, namun ada 2 item yang menggunakan boraks. Tempe juga demikian ada 5 item yang gunakan boraks," kata Kepala Seksi Pengujian Obat dan Kosmetik BPOM Ambon, Sandra Lenting kepada detikcom di Ambon, Selasa (10/1/2006).Dikatakan Sandra, setelah penemuan boraks pada makanan tempe dan tahu, pihaknya langsung melakukan pembinaan terhadap produsen tersebut. "Setelah pembinaan dan kami uji kembali dua minggu berikutnya, produsen tersebut sudah tidak menggunakan boraks. Boraks itu khan bahan kimia yang termasuk berbahaya," ujar dia.Selain mie basah, tempe dan tahu, jenis minuman anak-anak juga diuji. Hasil pengujian terhadap 30 sampel minuman, 16 diantaranya menggunakan pemanis buatan. "Kita temukan ada 16 item gunakan pemanis buatan dan kami sudah memperingatkan produsen-produsen tersebut," kata dia.Omzet Tahu AnjlokDilain pihak, walaupun sudah ada pengujian makanan dan minuman, namun para produsen tahu menyesalkan kinerja BPOM yang dinilai lamban. "Pihak BPOM lamban menyikapi soal ini. Akibatnya produksi tahu kami turun hingga 75 persen," ujar Nursaid, yang ditemui detikcom di kediamannya, desa Batu Merah Ambon.Bukan Cuma itu, kata Nursaid, hasil penjualan bakso maupun mie juga menurun drastis. "Lihat saja pak, ada teman-teman yang sudah nganggur berjualan selama tiga minggu. Tidak ada keuntungan yang kami peroleh," ungkap dia.Diungkapkan Nursaid, usaha tahu, tempe dan mie basah miliknya adalah usaha turunan orang tuanya sejak 50 tahun lalu. "Saya ini lahir di Ambon. Dan sejak usaha mie, tahu dan tempe, kami tidak pernah menggunakan yang namanya formalin atau boraks," ujarnya sesal. Dari hasil penjualan, kata Nursaid, biasanya mendapatkan keuntungan kotor hingga Rp 3 juta per hari. Setelah dipotong sana sini keuntungan bersih kita Rp 1, 5 juta per hari.Namun setelah isu formalind an boraks beredar di layar televisi dan media cetak, omzet penjualannya anjlok hingga Rp 85 persen. "Sementara ini saya hentikan penjualan bakso dan mie basah. Nanti setelah isunya sudah rada hilang, kami akan kembali menjualnya," katanya.Nursaid yang juga dosen pada STAIN Ambon ini juga berharap, pihak BPOM dapat mengantisipasi isu-isu seperti itu secepat mungkin, kalau tidak yang menderita adalah para pedagang kecil. "Kalau boleh, antisipasinya cepat," ujarnya. (mar/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads