Viral KTP Warga Mojokerto di Sarang ISIS, Kemendagri Duga KTP Palsu

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Selasa, 01 Sep 2020 18:00 WIB
Direktur Jenderal (Dirjen) Kependudukan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Zudan Arif Fakhrulloh.
Direktur Jenderal (Dirjen) Kependudukan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Zudan Arif Fakhrulloh (Rahel/detikcom)
Jakarta -

Beredar video yang menunjukkan KTP seorang WNI di sarang ISIS, Yaman. Direktur Jenderal (Dirjen) Kependudukan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Zudan Arif Fakhrulloh, menduga KTP tersebut palsu.

"Saya menduga KTP itu palsu karena saya nggak melihat fisik aslinya hanya melihat datanya. Datanya NIK-nya adalah milik namanya Ridho Rahman Munanto," kata Zudan di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Selasa (1/9/2020).

Zudan menjelaskan, di KTP yang ditemukan di Yaman, tertulis nama Syamsul Hadi Anwar. Namun, setelah Nomor Induk Kependudukan (NIK) KTP itu ditelusuri, KTP tersebut terdaftar atas nama Ridho Rahman Munanto.

"Jadi NIK yang ditemukan di sana (Yaman) tidak terdaftar di dalam database kependudukan Indonesia. Terdata atas nama Ridho Rahman Munanto sejak tahun 2006," ujar Zudan.

Lebih lanjut Zudan menyebut pemilik identitas tersebut tinggal di daerah Nganjuk, Indonesia. Zudan pun telah mengirimkan tim Dukcapil setempat guna mendatangi lokasi tersebut.

"Nah, orang ini ada di Indonesia dan sekarang tinggal di Nganjuk. Jadi kita sudah lacak ke Sidoarjo, kita lacak ke Nganjuk, lacak di Mojokerto. Karena KTP yang ditemukan di Yaman itu kan Mojokerto. Kita sudah tugaskan Dukcapil Mojokerto untuk mendatangi rumah penduduk di alamat itu, ternyata alamat itu tidak sesuai dengan nama yang bersangkutan sejak 2010, rumah itu sudah kosong," jelasnya.

Diketahui, video penemuan KTP diduga milik warga Mojokerto di sarang ISIS, Provinsi Al Bayda, Yaman, diunggah akun Twitter @Natsecjeff pada Sabtu (29/8) pukul 12.51 WIB, viral. Selain menemukan KTP, militan Houthi menemukan beberapa lembar uang rupiah pecahan Rp 10.000, Rp 5.000, dan Rp 2.000.

Saat menggeledah tempat persembunyian teroris ISIS di Provinsi Al Bayda, Yaman. KTP warga negara Indonesia (WNI) yang ditemukan bukan berjenis KTP elektronik (e-KTP). Masa berlakunya hingga 24 Desember 2013. Tertulis nama Syamsul Hadi Anwar, warga Japan Raya Jalan Basket blok NN 15, RT 1 RW 12, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, pada KTP tersebut.

Namun warga yang tinggal di sekitar alamat pada KTP tersebut menyebutkan, nama itu tidak pernah tinggal di lokasi tersebut. Bahkan rumah sesuai dengan alamat pada KTP bercat kuning dan oranye itu tidak berpenghuni. Kanopi rumah sudah rusak berat. Halamannya ditumbuhi rumput dan ilalang tanda lama tak terurus.

(hel/idn)