Lampaui 65%, Kondisi Keterpakaian Tempat Tidur RS Corona di DKI Tak Ideal

Tim detikcom - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 17:08 WIB
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool/aww.
Ruang di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta -

Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito menjabarkan soal kondisi rumah sakit di DKI Jakarta yang menangani pasien Corona. Wiku menyebut saat ini kondisi keterpakaian tempat tidur di rumah sakit Corona DKI tak ideal.

"Seperti kita ketahui kasus cukup meningkat tajam di DKI selama beberapa waktu terakhir dan beberapa daerah di DKI selama 4 minggu memiliki risiko yang tinggi dan DKI Jakarta memiliki 54 laboratorium sebagai pendukung untuk pemeriksaan kemudian ada 67 rumah sakit rujukan di DKI Jakarta, di mana ada 170 rumah sakit yang menangani COVID di DKI," ujar Wiku melalui tayangan akun YouTube BNPB, Senin (31/8/2020).

"Dan kalau kita lihat kondisinya pada saat ini angka keterpakaian tempat tidur di ruang isolasi adalah 69 persen pada saat ini. Sedangkan angka keterpakaian tempat tidur di ICU, yaitu 77 persen. Kondisi ini memang kondisi yang tidak ideal," imbuh dia.

Untuk itu, lanjut Wiku, pemerintah sedang berupaya untuk menekan angka keterpakaian tempat tidur di rumah sakit sampai di bawah 60 persen. Salah satu langkahnya yakni mengoptimalkan RS Wisma Atlet untuk menangani pasien sedang, ringan, yang dipindahkan dari rumah sakit rujukan Corona di DKI.

"Sehingga beban tenaga kesehatan di rumah sakit bisa berkurang," kata Wiku.

Per hari ini, DKI Jakarta melaporkan kasus tambahan positif Corona sebanyak 1.049 orang. Lalu pada kemarin ada 1.114 kasus Corona, di mana 385 kasus di antaranya merupakan akumulasi 7 hari yang belum dilaporkan.

"Jadi angka yang tinggi ini ada kemungkinan pencatatan yang belum bisa real time pada hari itu sehingga akumulasinya dilaporkan pada hari tertentu," jelas Wiku.

Dia juga menduga penambahan kasus Corona di DKI kemungkinan penularannya terjadi antara tanggal 16 sampai 22 Agustus 2020 kemarin pada saat libur panjang. Untuk itu, Wiku meminta kepada masyarakat untuk taat akan protokol kesehatan.

"Tngkat penularannya cukup tinggi pada periode tersebut, hal ini bisa terjadi tentunya dukungan masyarakat bahwa pandemi masih terjadi di seluruh dunia dan kita harus hati-hati menjalankan protokol kesehatan dengan ketat, apa pun itu agar tak terjadi kondisi seperti yang dialami DKI dengan liburan panjangnya dan terjadi penularan dan peningkatan kasus," kata Wiku.

Simak video 'Jakarta Tertinggi, Ini Grafik Kumulatif Kasus Positif COVID-19 di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(idn/gbr)