Membaca Trend Globalisasi (23)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Memperkenalkan Perpustakaan Modern

prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Sabtu, 29 Agu 2020 07:00 WIB
Poster
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Dunia Islam abad pertengahan merintis perpustakaan terlengkap dan modern. Sulit dibayangkan 1000 tahun lalu sudah ada perpustakaan Baitul Hikmah yang mengoleksi buku lebih dari 4 juta buah, kemudian buku-buku itu dibuang ke sungai Tigris oleh Pasukan Mongol yang menguasai Bagdad ketika itu, sehingga airnya menjadi hitam karena tinta selama berbulan-bulan. Meskipun turunan pasukan Mongol pada akhirnya memeluk agama Islam dan ikut menyesali perbuatan kakeknya yang bertindak kejam dan membakar Baitul Hikmah itu.

Bukan hanya di Baitul Hikmah, kerajaan-kerajaan lain dunia Islam berlomba mengoleksi buku-buku dari berbagai bahasa. Perpustakaan dunia Islam masa silam yang pernah jaya dengan mengoleksi berbagai karya-karya langka antara lain: Baitul Hikmah di Bagdad, Al-Haidariyah di An-Najaf, Ibnu Sawwar di Basrah, Sabur, Darul Hikamah di Kairo, dan sejumlah perpustakaan di sekolah/madrasah atau pusat-pusat kajian. Selain perpustakaan terbesar tadi masih ada sejumlah perpustakaan khusus dengan masing-masing koleksinya yang secara khusus, seperti perpustakaan semi umum yang didirikan oleh para khalifah dan untuk mendekan diri kepada ilmu pengetahuan. Di antara perpustakaan tersebut ialah: Perpustakaan An-Nashir li Dinillah, Perpustakaan Al-Muzta'sim Billah, dan Perpustakaan Khalifah-Khalifah Fathimiyah.


Masih ada juga perpustakaan yang merupakan perpustakaan pribadi yang memiliki sejumlah koleksi, seperti yang dilakukan oleh keluarga para raja. Perpustakaan jenis ini antara lain: Perpustakaan Al-Fathu Ibnu Haqam, Perpustakaan hunain Ibnu Ishaq, Perpustakaan Ibnul Harsyab, Perpustakaan Al-Muwaffaq Ibnul Mathran, Perpustakaan Al-Mubasysir Ibnu Fatik, dan Perpustakaan Jamaluddin Al-Qifthi. Di abad petengahan, perpustakaan-perpustakan dunia Islam ramai dikunjung dari berbagai kalangan, karena di Eropa ketika itu masih gelap-gulita. Mungkin sudah ada koleksi di gereja-gereia atau di lingkungan istana tetapi samasekali tidak bisa dibandingkan perpustakaan di dalam dunia Islam. Lagi pula, perpustakaan di dalam dunia Islam ketika itu bukan hanya berdiri sendiri sebagai perpustakaan (ruang baca) tetapi betul-betul digunakan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Para ahli bahasa diberikan biaya yang cukup untuk menerjemahkan buku-buku yang berabahasa asing ke dalam bahasa Arab atau bahasa Persia.


Gairah keilmuan orang-orang di abad pertengahan memang luar biasa. Bayangkan misalnya Ibn Hazm, yang dikenal sebagai ulama yang hebat, mampu menulis kitab 400 jilid dengan perkiraan sekitar 80.000 halaman. Nama lain ialah Ibn Hajar al-'Asqallani yang menulis Syarah Hadis Imam Bukhari yang berjilid-jilid. Pernah ada orang yang menghitung, jika dihitung halaman buku yang pernah ditulis oleh Al-Thabari dikalikan dengan umurnya maka rata-rata sehari menulis sekitar 5 halaman. Nama lain yang tidak asing di Indonesia ialah Imam Syafi', Imam Al-Gazali, dan Ibn 'Arabi, yang menulis kitab berjilid-jilid dari berbagai disiplin ilmu. Gairah ilmiah di abad pertengahan belum bisa tandingi oleh para ilmuan pada abad sesudahnya.


Sifat perpustakaan dunia Islam ketika itu antara lain: 1) Untuk mengoleksi buku-buku dari mana pun asalnya untuk memberikan wawasan kepada ilmuan muslim. 2) Untuk disalin atau digandakan ke daerah-daerah lain, maklum ketika itu belum ada foto copy atau mesin cetak canggih seperti sekarang. Untuk menggandankan buku atau kitab dilakukan penulisan ulang. Gedung perpustakaan dipenuhi oleh para penulis kitab. 3) Untuk diterjemahkan, khususnya dari bahasa-bahasa asing bagi dunia Arab, seperti bahasa Yunani, Cina, dan India. 4) Sebagai pusat penelitian, yaitu para ilmuan mengkaji buku-buku itu untuk dikembangkan lebih lanjut. Perpustakaan pada masa itu tidak pernah sepi, karena empat kegiatan tersebut.

(lus/lus)