Perlawanan Rakyat Kalimantan di Masa Perjuangan Lengkap

Puti Yasmin - detikNews
Jumat, 28 Agu 2020 14:08 WIB
Pulau Salissingan di Kalimantan Timur
Foto: Edelweiss Blogger/d'Traveler/Ilustrasi Perlawanan Rakyat Kalimantan di Masa Perjuangan Lengkap
Jakarta -

Pulau Kalimantan pernah menjadi medan perang melawan penjajah. Peristiwa ini pun dikenal dengan nama perlawanan rakyat Kalimantan terhadap Belanda dan kemudian Jepang.

Peristiwa ini tepatnya terjadi di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Akibat perlawanan terhadap penjajah, ada banyak nyawa yang berguguran.

Nah, seperti apa perlawanan rakyat Kalimantan?

Ringkasan Perjuangan Perlawanan Rakyat Kalimantan

Dikutip dari buku 'Sejarah' terbitan Grasindo, perlawanan rakyat Kalimantan berlangsung hampir selama setengah abad. Jenis perlawanannya pun terbagi menjadi dua corak, yakni ofensif (menyerang) dan defensif (bertahan).

Pertempuran ini berlangsung pada tahun 1859 karena Belanda ikut campur tangan terhadap pengangkatan raja di Kerajaan Banjarmasin. Hal ini pun ditentang oleh masyarakat dan juga bangsawan hingga menyebabkan perselisihan.

Diketahui, Belanda mengangkat pangeran Tamjidillah menjadi seorang sultan. Padahal, di sisi lain ada pangeran Hidayat yang dinilai lebih berhak namun hanya ditunjuk sebagai Mangkubumi sehingga memicu kemarahan rakyat untuk menyerang.

Tokoh Perlawanan Rakyat Kalimantan

Perlawanan rakyat Kalimantan melawan Belanda dipimpin oleh pangeran Antasari. Ia memimpin pasukan rakyat untuk mengepung benteng Belanda di Martapura dan juga Pangaron.

Kemudian, ada juga Kyai Demang Loman dan pengikutnya yang bergerak di sekitar Riam Kiwa dan mengancam benteng Belanda. Sementara di pos Belanda Istana Martapura, Haji Nasrun juga melakukan penyerangan.

Pada bulan Agustus 1859, tiga tokoh setempat, Haji Buyasin, Kyai Lang Lang, dan Kyai Demang Loman bersama-sama menyerang benteng Belanda di Tabanio. Sedangkan, pangeran Hidayat tetap mengadakan perlawanan gerilya.

Sayang, di tahun 1862 pangeran Hidayat ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Cianjur. Sedangkan Pangeran Antasari diketahui meninggal dunia di tahun yang sama.

Selanjutnya, tokoh kepemimpinan dilanjutkan oleh Gusti Matsaid, Pangeran Mas Natawijaya, Tumenggung Surapati, Tumenggung Naro, Penghulu Rasyid, Gusti Matseman, dan Pangeran Perbatasari dengan melakukan perlawanan gerilya.

Perlawanan tersebut dilakukan menyebar ke berbagai wilayah guna menyulitkan Belanda. Diketahui, perlawanan itu berlangsung hingga awal abad ke-20 atau tahun 1905.

Perlawanan Rakyat Kalimantan terhadap Jepang

Selain Belanda, rakyat Kalimantan juga melakukan perlawanan terhadap Jepang. Hal ini terjadi pada tahun 1940-an di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Jepang pertama kali mendarat di Kalimantan Barat pada Februari 1942. Sekitar dua tahun kemudian terjadi pembunuhan massal bermula dari informasi yang diterima pihak Jepang bahwa akan muncul perlawanan. Jepang pun mulai melakukan penangkapan pada tokoh-tokoh masyarakat.

Mulai Oktober 1943 sampai Juni 1944, Jepang melakukan eksekusi orang-orang yang ditangkap. Puncaknya terjadi pada 28 Juni 1944 yang kemudian dikenal dengan peristiwa Mandor. Mandor adalah sebuah wilayah kecil yang berjarak sekitar 88 kilometer dari Kota Pontianak. Diperkirakan ribuan orang tewas dibantai tentara Jepang dalam periode itu.

Di pihak Suku Dayak terjadi juga konflik dengan tentara Jepang. Konflik dan pembantaian, akhirnya pada tahun 1944 orang-orang Dayak di Kalimantan Barat mulai melakukan perlawanan rakyat Kalimantan. Namun sayang, hal itu tidak mengancam kekuasaan Jepang sama sekali.

(pay/pal)