Jahitan Dilepas, Korban SUTET Sayangkan RS Ridwan Salemba

Jahitan Dilepas, Korban SUTET Sayangkan RS Ridwan Salemba

- detikNews
Minggu, 08 Jan 2006 20:24 WIB
Jakarta - Seorang aktivis korban Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), M Safrudin menyayangkan sikap rumah sakit (RS) Ridwan Muraksa. Pihak rumah sakit telah membuka jahitan yang membentang di mulutnya. "Saya nggak tahu jahitan dibuka. Kenapa ngga bilang-bilang dulu buka mulut saya," kesal Safrudin ketika detikcom mewawancarainya saat berdemo di bekas kantor PDI Perjuangan, JL Diponegoro No.58, Jakarta Pusat, Minggu (8/1/2006).Safrudin mengaku pada saat jahitan di mulutnya dilepas, dia dalam keadaan tidak sadar diri. Ia pun geram dengan tindakan rumah sakit ini. "Saya marah, kan saya ngga sadar pas dibawa ke rumah sakit," ketusnya. Ditanya niatnya untuk melanjutkan aksi dari rumahnya, Safrudin menegaskan, "Kita lihat warga Bogor dulu, kita punya cara-cara lain untuk tekan PLN, karena sudah menjadi tanggung jawab PLN."Apabila aksi demo SUTET ini memakan korban meninggal dunia, Safrudin pun menuding pemerintah. "Ini jadi tanggung jawab PLN dan Pemerintah bila ada yang meninggal di sini," tegas dia. Adapun kondisi terakhir ketiga aktivis yang masih bertekad baja berdemo di halaman bekas kantor PDI sudah sangat kritis. Mereka antara lain, Jajang (39) sudah memasukin hari kelima berdemo, Tarman (50) sudah melakukan aksi sepanjang tiga hari terakhir. Terakhir adalah seorang warga Parung, Bogor, Romli (39) yang telah memasukinhari kesepuluhnya. Kondisi Romli sudah panas dingin pada Sabtu malam (7/1/2006). Lima aktivis korban SUTET melakukan aksi mogok makan dan jahit mulut di halaman bekas kantor PDI. Mereka meminta ganti rugi yang selayaknya dari PT PLN akibat rumah tinggalnya dilalui jaringan listrik berkekuatan ekstra tinggi. Mereka juga mendesak pemerintah untuk mengusut kasus korupsi uang yang menjadi hak rakyat korban SUTET. (wiq/)


Berita Terkait