Seorang Pendemo SUTET Lanjutkan Aksi dari Rumah
Minggu, 08 Jan 2006 18:54 WIB
Jakarta - Tak jua mengurungkan niatnya, seorang korban Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), M Safrudin tetap melanjutkan aksi dari rumahnya. Dia meninggalkan keempat kawan aksinya karena permintaan keluarganya. "Saya tetap melakukan aksi mogok makan walau sudah berada di rumah," tegas Safrudin kepada detikcom sesaat sebelum meninggalkan aksi di bekas kantor PDI Perjuangan, JL Diponegoro No.58, Jakarta Pusat, Minggu (8/1/2006).Tekad Safrudin tetap membara sampai tuntutan masyarakat Parung diterima oleh kantor PLN Bogor. "Saya lanjutkan aksi dari rumahlah," tegas dia.Safrudin meninggalkan aksi siang ini sekitar pukul 11.45 WIB. Dengan berparas lesu dan kecewa, pria yang saat itu menggunakan kaos merah pun kembali ke rumah karena permintaan keluarganya. "Safrudin kembali ke rumah atas permintaan keluarga," tambah Koordinator Umum posko Selamatkan Rakyat Jimmy Matita Putih.Sebelumnya, Sabtu kemarin (7/1/2006), keluarga dan tim dokter RS Ridwan Muraksa sempat membawa Safrudin dan Nurdin ke rumah sakit. Namun siang tadi, keduanya bertekad untuk melanjutkan aksi. Kondisi Safrudin dan Nurdin sebenarnya sudah sangat riskan. Bahkan, ditambahkan Jimmy, akan menimbulkan kematian. "Pemerintah nantinya yang dituntut bertanggung jawab atas kematian tersebut," tutur Jimmy.Lima aktivis korban SUTET melakukan aksi mogok makan dan jahit mulut di halaman bekas kantor PDI sejak 27 Desember 2005. Mereka meminta ganti rugi yang selayaknya dari PT PLN akibat rumah tinggalnya dilalui jaringan listrik berkekuatan ekstra tinggi. Mereka juga mendesak pemerintah untuk mengusut kasus korupsi uang yang menjadi hak rakyat korban SUTET.
(wiq/)











































