Illegal Logging di Jember, Pejabat Pemda Harus Diperiksa
Minggu, 08 Jan 2006 17:42 WIB
Jakarta - Presiden PKS Tifatul Sembiring yakin penyebab musibah banjir bandang di Jember adalah penebangan kayu liar. Banyak pihak terlibat dalam bisnis ini yang harus diperiksa, termasuk kepala daerahnya.Tifatul yang saat ini tengah meninjau lokasi banjir di Jember, bahkan melihat kayu yang hanyut masih ada bekas gergajian. "Di bagian bukit, pohon-pohon besar nyaris habis. Yang ada tinggal semak dan rumput yang tentu saja tak mampu menahan curah hujan tinggi," kata Tifatul pada detikcom, Minggu (8/1/2006) pukul 16.30 WIB.Tifatul berargumen, pendapatnya ini juga diperkuat oleh penduduk setempat. Menurut mereka, pembalakan liar ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun belum ada tindakan jelas dari pemerintah. "Para pejabat Departemen Kehutanan, gubernur dan bupati agar tidak menyampaikan laporan ABS (asal bapak senang-red), harus ada political will dari Presiden SBY untuk mengusut dan menghukum berat pelaku illegal logging," papar Tifatul.Menurutnya, pemandangan yang sama juga terjadi di Aceh Tenggara, Gayo Luwes, Bahorok, Banjarnegara dan beberapa tempat lain. "Kasus ini melibatkan cukong, penduduk, aparat keamanan dan oknum Dinas Kehutanan. Bahkan kasus ini juga perlu diusut sampai kepala daerah setempat," tegasnya.Sementara itu untuk mengevakuasi korban, Tifatul mengharapkan pemerintah segera mengupayakan relokasi penduduk dan menyediakan sarana pemukiman yang layak, dapur umum dan pelayanan kesehatan dengan manajemen yang baik."Jangan sampai terulang seperti di Aceh, sampai 1 tahun penduduk masih di tenda-tenda tidak layak huni," kata Tifatul.Tifatul juga mengungkapkan, saat ini PKS telah mengirimkan tim relawan ke Jember. Tim yang terdiri dari 61 orang dan 12 dokter BSMI ini sudah mendirikan 7 posko di sekitar daerah bencana dan Kota Jember. Sebagian membantu melayani tindakan darurat, dapur umum, kesehatan, konseling ringan, peduli anak dan pembangunan sumber air bersih. Sementara sebagian lain ditugaskan membersihkan puing-puing yang ada di Masjid Al- Hasan Pesantren Bustanul Ulum, Desa Kemiri, Jember.Hingga saat ini korban tewas bencana banjir bandang di Jember mencapai lebih dari 100 orang dan puluhan orang belum diketahui nasibnya. Sementara itu kerugian fisik diperkirakan senilai Rp 6,42 milyar. Jumlah itu belum termasuk kerusakan jalan aspal, jaringan air bersih, dan kerusakan bangunan milik warga.
(ken/)











































