Pemerintah Periksa 29.663 Spesimen terkait Corona Hari Ini

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 15:21 WIB
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium.
Ilustrasi tes Covid-19 (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah terus memeriksa spesimen untuk menemukan kasus virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Hari ini lebih dari 29 ribu spesimen yang diperiksa.

Berdasarkan data dari BNPB, Kamis (27/8/2020), ada 29.663 spesimen terkait Corona yang diperiksa. Data ini diambil dengan batas waktu pukul 12.00 WIB.

Dari pemeriksaan 29.663 spesimen itu, 29.340 di antaranya diperiksa dengan Reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Sementara, 323 lainnya diperiksa dengan metode tes cepat molekuler (TCM).

Dari puluhan ribu spesimen yang diperiksa itu, ditemukan kasus baru positif Corona sebanyak 2.719. Dengan penambahan itu, total kasus positif Corona di Indonesia per hari ini berjumlah 162.884.

Dilaporkan juga sebanyak 3.166 pasien sembuh dari Corona. Dengan penambahan tersebut, total pasien sembuh dari Corona di RI sebanyak 118.575.

Sementara itu, pasien positif Corona yang meninggal dunia hari ini sebanyak 120 orang, sehingga totalnya menjadi 7.064 orang meninggal.

Jumlah pemeriksaan spesimen yang diperiksa hari ini lebih banyak dari hari sebelumnya. Pada 26 Agustus, jumlah spesimen terkait Corona yang diperiksa sebanyak 29.312.

Namun, jumlah tersebut belum memenuhi target dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seperti diketahui, Jokowi menargetkan 30 ribu spesimen diperiksa setiap hari.

Juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan jumlah tes Corona di Indonesia masih jauh dari standar WHO. Hingga hari ini, jumlah penduduk yang dites Corona baru mencapai 35,6 persen dari standar WHO.

"Pergerakan jumlah pemeriksaan per orang dari waktu ke waktu berbeda-beda. Kami menggunakan standar WHO, bahwa pemeriksaan per orang adalah 1:1.000 penduduk/minggu," kata Wiku dalam konferensi pers daring yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (25/8).

Wiku menjelaskan, jika jumlah penduduk Indonesia 260 juta jiwa, target spesimen Corona yang diperiksa 267.700 tes setiap pekan. Wiku kemudian menjabarkan jumlah spesimen Corona yang diperiksa per pekan sejak akhir Juli hingga 23 Agustus.

"Untuk penduduk Indonesia yang 260 juta, maka yang harus dites adalah, targetnya adalah 267.700 tes per minggu. Dan Indonesia secara keseluruhan baru mencapai 35,6 persen dari standar WHO," jelas Wiku.

(mae/gbr)