Jenazah 3 WNI Dipulangkan Senin
Minggu, 08 Jan 2006 14:21 WIB
Kupang - Jenazah tiga WNI yang tewas ditembak polisi Timor Leste akan dipulangkan ke Indonesia melalui wilayah perbatasan Motaain, Kabupaten Belu, NTT. Sebelumnya, ketiga jenazah itu dibawa ke Dili pada Sabtu sore untuk kepentingan penyelidikan aparat negara itu. Ketiga jenazah disemayamkan di RS Maliana, sejak peristiwa penembakan, Jumat lalu.Kepastian itu ditegaskan oleh Dansatgas Pasukan Pengamanan RI-Timor Leste, Letkol Ediwan Prabowo, yang dihubungi di wilayah perbatasan Turiskain, Minggu (8/1/2006). "Kepastian pemulangan ketiga jenazah tersebut disampaikan oleh salah satu pejabat polisi negara itu melalui saluran telepon. Menurutnya, mudah-mudahan, Senin jenazah sudah tiba untuk dimakamkan," katanya.Keluarga tiga korban penembakan meminta pemerintah Timor Leste untuk tidak mengutak-atik jenazah korban. Permintaan ini berdasarkan pada pengalaman sebelumnya yaitu jenazah Vegas Beriato yang tewas tertembak 19 September 2003 lalu dikembalikan dalam kondisi tidak utuh.Saat itu, lidah, jantung, hati dan paru-paru, kemaluan serta organ tubuh lainnya tidak ada. Menurut Dansatgas Letkol Ediwan, pihaknya sudah meminta Kedutaan Besar RI di Dili untuk melakukan pengawasan keras sehingga aparat negara itu tidak mengambil organ tubuh para jenazah. "Saya sudah sampikan permohonan keluarga korban ke Kedutaan RI. Mudah-mudahan tidak ada organ tubuh yang diambil," kata Ediwan.Dua Remaja SelamatDua remaja Egidios (15) dan Elias Tavares (16) nyaris menjadi korban penembakan. Keduanya selamat. Namun ketiga temannya, Stanis Meuberi (40), Candido Mariano (24) dan Jose Mausorte (38) tewas tertembus timah panas polisi patroli perbatasan Timor Leste.Egidios dan Elias yang menetap di Desa Tohe, Kecamatan Rainhat, Kabupateen Belu ini, mengaku pada saat kejadian, mereka berlimas sedang pergi mencari ikan. "Biasanya, kami memancing di sungai yang ada di dekat pos TNI. Tetapi hari itu hujan lebat dan sementara banjir. Sehingga kami bergeser ke sungai kecil di dekat tebing di distrik Maliana," kata Elias Tavares.Menurutnya, tiba-tiba muncul lima polisi patroli perbatasan Timor Leste, menggunakan seragam warna biru tua. Salah satu polisi sempat berteriak "jangan lari" sedangkan dua polisi lain berada di semak-semak di pinggiran sungai. Karena panik, lanjutnya, semua berusaha menyelamatkan diri. "Saya dan Egidios langsung lari, tetapi dihadang dua polisi dan sempat memukul kepala saya dengan popor senjata. Pukulannya meleset karena saya tundukkan kepala," jelasnya.Menurutnya, dua menit kemudian terdengar rentetan tembakan sebanyak delapan kali. "Candido, Stanis dan Jose ditembak dari jarak cukup dekat," kenang Egidios.
(ary/)











































