Longsor, Mbok Sangidah Kehilangan Anak Semata Wayang
Minggu, 08 Jan 2006 00:01 WIB
Banjarnegara - Bencana tanah longsor di Dusun Gunungraja Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara menyisakan berbagai kisah pilu. Mbok Sangidah (40) terpaksa harus kehilangan anak semata wayang yang sangat dikasihi. Kini dia hidup sendirian bersama beberapa kerabatnya yang masih tersisa."Inyong (saya) sedih sekali, anak inyong Agus Setiawan (18) belum ketemu sampai hari ini. Semuanya sudah habis tertimbun dan inyong uwis ora duwe apa-apa maning," kata Sangidah kepada wartawan di Posko Pengungsian SDN Sijeruk, Sabtu (7/1/2006).Dengan logat Banyumasan bercampur Bahasa Jawa dan Indonesia itu, Sangidah menceritakan kisah pilunya itu dan tidak akan berani tinggal di Dusun Gunungraja lagi. Saat ini dirinya sudah hidup menjanda dan tinggal bersama anak tunggalnya Agus yang hanya lulusan SMP itu. Suaminya sudah meninggal dunia empat tahun lalu, akibat tewas tertimpa pohon saat mengambil getah pohon pinus di hutan.Saat kejadian, dia baru saja selesai salat subuh berjamaah di masjid dengan imam H Moh Kosim. Saat hendak pergi ke masjid, Agus bangun tidur pamit hendak buang air besar di sungai kecil yang ada di sebelah barat rumahnya.Saat terjadi longsor, dirinya langsung berlari mencari anaknya di sungai. Namun karena tanah bersama lumpur sudah sampai di samping rumah serta menyapu beberapa rumah tetangganya, Sangidah langsung melarikan diri ke arah timur menuju Desa Kalilunjar. Di depan rumahnya sudah banyak para tetangga yang melarikan diri sambil berteriak Allahu Akbar dan Astaghfirullah. "Inyong isih keligan (ingat) Agus isih neng kali (sungai), ning ora bisa nggoleki," katanya sambil menahan sedih.Dia memperkirakan anaknya hilang di sekitar sungai atau di sekitar jalan dusun saat hendak melarikan diri. Sebab kalau lari ke arah selatan dusun atau ke arah bawah sungai justru akan selamat. "Kalau ke timur pasti kena gunturan (longsoran)," ujarnya. Menurut Sangidah, sepeninggal suaminya, dia hidup hanya sebagai petani dan buruh tani bila ada tetangga yang membutuhkan tenaganya. Anaknya Agus setamat SMP hanya di rumah membantu orangtuanya dan mencari rumput di sawah dan hutan untuk dijual kepada tetangganya yang punya ternak kambing. "Dia itu tumpuan keluarga kami dan sedih kalau Agus sampai sekarang belum ketemu," katanya.Hal serupa juga dialami oleh Sarjono (60) dan Sugeng Sutrsino (43) yang harus kehilangan ayah Tohari (80) dan Ny Maksudi (65). Baik Sarjono maupun Sugeng saat bencana datang berhasil menyelamatkan beberapa orang tetangganya, namun tidak berhasil menyelamatkan orangtuanya.Menurut Sarjono, saat longsor terjadi, dia baru saja salat di masjid dan hendak minum teh dan melinting rokok kemenyan di ruang tamu rumahnya. Ketika tanah longsor sudah menghantam rumahnya, dia langsung lari menyelamatkan ibunya Ny Tohari (76) dengan menggamit di pinggang kanannya sambil menggandeng anggota keluarganya di tangan kirinya. Sementara itu istrinya bersama beberapa orang anaknya sudah lari duluan.Setelah menyelamatkan anak dan ibu kandungnya ke rumah tetangga yang aman, Sarjono kemudian berbalik lagi masuk ke rumah untuk menyelamatkan bapaknya, Tohari yang tertimpa atap rumah bagian depan. Namun karena luka di bagian kepala akibat tertimpa kayu hingga tak sadarkan diri itu, ayahnya Tohari akhirnya meninggal di RSU Banjarnegara, Kamis (5/1/2005) siang. Sementara itu, Sugeng Sutrisno juga mengaku sedih karena harus kehilangan salah satu orangtuanya, Ny Maksudi (65). Meski tujuh orang anggota keluarganya termasuk bapaknya, Maksudi juga ikut selamat. Ibunya hilang terkubur karena saat longsor datang baru saja buang hajat di sungai sebelah barat rumahnya."Setelah menyelamatkan keluarga, saya bersama anak-anak mencari ibu saya yang masih berada di sungai. Tapi karena tanah terus bergerak kami tidak berani. Perkiraan kami, ibu hilang di sekitar masjid dan ternyata benar ditemukan di dekat halaman masjid," jelasnya.Menurut Sugeng, saat itu dirinya bersama anaknya Abdul Jamil sempat menolong anak bernama Widi (8) yang tersangkut di atap reruntuhan rumah. Widi sendiri akhirnya kehilangan kedua orangtuanya yang tewas terkubur di depan rumahnya sendiri."Saya juga sempat menolong Widi yang tersangkut di atap rumah. Seluruh badannya tertimbun dan hanya tangannya yang melambai-lambai kemudian ditarik oleh Jamil dengan luka di bagian muka dan kaki cukup parah," kata Sugeng.Sugeng mengaku setelah ditemukannya jenazah ibunya, keluarga bersyukur bisa segera memakamkan di pemakaman umum dusun setempat. "Saya bisa mengenalinya setelah melihat pakaian dan jarik (kain panjang) yang dipakainya meski tubuhnya sudah rusak," katanya lirih.
(atq/)











































