Atasi Konflik, Pemerintah Harus Awasi Sekterianisme
Sabtu, 07 Jan 2006 20:10 WIB
Jakarta - Konflik horizontal di Indonesia masih saja terjadi. Terkait dengan itu, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menegaskan, pemerintah harus mewaspadai gejala sekterianisme di beberapa daerah di Indonesia."Sektarian merupakan infiltrasi ideologi yang akan menggeser wawasan kebangsaan kita," kata Hendropriyono dalam jumpa pers di Hotel Harris, Jl Dr Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (7/1/2006).Mantan Panglima Kodam Jaya ini mengingatkan, jika pemerintah gagal dalam menanggulangi sekterianisme maka bahaya akan mengancam pemerintah. "Bahayanya, kita tidak akan pernah berhasil mengatasi konflik antar masyarakat seperti di Poso dan Ambon," jelasnya.Hendro juga menanggapi positif perihal adanya satuan petugas yang dibuat pemerintah di beberapa daerah konflik di Indonesia. "Itu cukup positif. Tetapi kalau bicara pada tataran politis kita harus tetap waspada," ungkapnya.Terkait gejolak yang terjadi di beberapa daerah, Hendro pun menguraikan analisa intelijennya. Menurutnya, aksi-aksi pengeboman disebabkan belum tuntasnya pemerintah membongkar jaringan Al Jama'ah Al Islamiyah (AJAI), bukan Jamaah Islamiyah (JI) seperti yang ditulis di media. Jaringan ini, menurut Hendro, dilatih di daerah Afghanistan, Pakistan dan Mindanau Filipina Selatan. Perlu dilakukan operasi intelijen untuk menangkap mereka semua. "Anggota AJAI yang eksis ada 11 angkatan. Mereka merupakan kader inti. Kita juga belum dapat menangkap semua," papar Hendro.Dia meminta adanya usaha-usaha dan dukungan rakyat Indonesia terutama umat Islam untuk meminimalisir pergerakan jaringan ini. "Saya melihat banyak umat Islam yang terjebak dalam kaderisasi mereka," tutur Hendro.Hendro juga menyayangkan adanya penilaian negatif masyarakat tentang operasi intelijen. "Jangan dianggap operasi intelijen itu menangkap-nangkap orang. Tetapi peranannya untuk membaca ancaman bagi bangsa Indonesia," tandasnya.Dalam kesempatan itu, Hendro membantah adanya tuduhan bahwa aksi kekerasan di Sulawesi merupakan bagian dari operasi intelijen. " Kita berpijak hanya berdasarkan fakta. Setiap orang bisa saja memunculkan sesuai skenario masing-masing. Ini bisa bahaya," tegasnya.
(atq/)











































