3 Tim Kecil Dibentuk Tangani Makanan Berformalin
Sabtu, 07 Jan 2006 17:12 WIB
Jakarta - 6 Departemen serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terlibat dalam 3 tim kecil bentukan Kementerian Kesra untuk menangani masalah makanan berformalin.Keenam departemen itu adalah Depkes, Depperdag, Depperin, Depnaker, Depkop dan UKM, serta Depkominfo."Konsep penyelesaiannya oleh tim tersebut diharapkan selesai pada Rabu mendatang," kata Menko Kesra Aburizal Bakrie alias Ical usai rakor tentang formalin di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Sabtu (7/1/2006).Turut hadir dalam jumpa pers Menkes Siti Fadilah Supari, Menperdag Mari Elka Pangestu, Menperin Fahmi Idris, Menkop dan UKM Suryadharma Ali, serta Kepala BPOM Sampurno.Dituturkan Ical, tim kecil pertama akan menangani masalah penanggulangan terhadap pemakaian bahan pengawet berbahaya pada makanan dan minuman yang akan dilakukan Depkes, Depperdag, dan BPOM.Tim kecil kedua akan melakukan penyelamatan terhadap industri yang akan dilakukan Depperin, Depnaker, serta Depkop dan UKM.Sedangkan tim kecil ketiga akan melakukan penyuluhan yang dilakukan Depkominfo, Depkes, BPOM, dan Depperdag."Tim kecil ini akan membuat konsep mengenai 4 masalah yang harus diselesaikan pada Rabu nanti, sehingga bisa menjaga kesehatan masyarakat dan juga pengangguran," kata Ical.Masalah pertama, tindakan penyuluhan secara positif kepada masyarakat tentang bahan-bahan pengawet berbahaya agar produsen, importir, dan masyarakat mengetahuinya.Kedua, pengawasan terhadap produksi, distribusi, dan impor akan dilakukan secara ketat. Pemerintah akan membuat lembaga pengawasan produk makanan dan minuman untuk melakukan penataan lebih baik dengan melibatkan sejumlah departemen.Ketiga, masalah hukum, yaitu akan membuat peraturan untuk melengkapi UU yang sudah ada dengan melarang penggunaan bahan pengawet berbahaya, dan juga akan mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap pemakai dan penjual yang menggunakan produk pengawet berbahaya."Keempat, melakukan penyelamatan terhadap industri-industri kecil dan menengah yang terkena dampak isu formalin," papar Ical.
(sss/)











































