Dear Petani Kakao, Ini Cara Basmi Hama Jitu dari Kementan

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 13:05 WIB
kakao
Foto: shutterstock
Jakarta -

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sangat rentan terhadap perubahan iklim khususnya curah hujan dan kelembapan. Pertumbuhan dan penyebaran jamur juga akan semakin cepat saat berada di lingkungan dengan curah hujan dan kelembapan tinggi.

Dari perubahan iklim tersebut, komoditi kakao pun juga terancam dengan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang kerap meningkat serangannya di musim hujan seperti busuk buah, kanker batang. Selain itu OPT ini juga lebih mudah tersebar di daerah beriklim basah dengan curah hujan yang tersebar merata sepanjang tahun daripada di daerah beriklim kering.

Seperti yang terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat yang merupakan sentra komoditi kakao, tetapi juga menjadi tiga daerah dengan serangan endemis OPT utama kakao terbanyak sepanjang tahun 2019.


Menurut data iklim yang disajikan oleh BMKG, ketiga provinsi daerah tersebut memiliki angka rata-rata suhu, kelembapan, penyinaran matahari dan curah hujan yang hampir sama. Sehingga diduga iklim menjadi salah satu faktor peningkatan intensitas serangan OPT. Di samping itu, penyebaran juga dipengaruhi oleh faktor yang lain seperti populasi inang dan distribusi/migrasi vektor atau agens pembawa.

Menurut Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon, Azwin Amir, melihat potensi serangan OPT dan cuaca ekstrem yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu dan berdampak pada areal perkebunan kakao, terdapat 6 strategi yang dapat dilakukan petani kakao dalam menghadapi perubahan iklim, di antaranya,

Sanitasi dan Rehan Kebun
Ini meliputi sambung samping untuk tanaman kakao yang produktivitasnya sudah menurun atau tidak termasuk klon unggul, pemangkasan serta pemanenan buah matang/ panen sering dan pemetikan buah busuk.

Irigasi dan Bak Penampung
Khusus pembuatan bak penampung dilakukan apabila tidak ada tempat pembuangan akhir saluran irigasi (sungai).

Rorak dan Istana Cacing
Keduanya merupakan galian yang dibuat di sebelah pokok tanaman untuk menempatkan bahan organik dan dapat berfungsi sebagai lubang drainase. Rorak dimanfaatkan untuk mengumpulkan bahan organik yang apabila sudah cukup waktunya akan dimanfaatkan sebagai kompos, digali lalu ditaburkan ke piringan tanaman.

"Bedanya dengan rorak, istana cacing tidak perlu digali untuk diambil komposnya dan ditaburkan ke permukaan, kompos tetap di bawah permukaan tanah dan dimanfaatkan secara alami oleh akar tanaman," ujar Azwin Amir dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2020).


Penanaman Tanaman Sela
Pemilihan dan pengkombinasian tanaman sela berhubungan erat dengan karakteristik tanah, periode tanam kakao (umur tanaman), jarak tanam kakao, peluang pasar dan pilihan pangan petani. Penanaman tanaman sela berguna sebagai nilai tambah bagi ekonomi dan menarik petani untuk bersemangat merawat kebunnya.

Pemupukan Organik
Pilihkan pupuk yang mengandung agens pengendali hayati (APH). Penggunaan agens pengendali hayati yakni sebagai penyuplai unsur hara dan menekan populasi organisme pengganggu tumbuhan.

Perangkap Sederhana dan Ramah Lingkungan
Pembuatan perangkap dilakukan di penghujung musim hujan untuk persiapan menghadapi awal musim kemarau, mengingat serangan hama biasanya menurun sepanjang musim penghujan.

"Penerapan enam strategi tersebut diharapkan membuat tanaman kakao mampu bertahan hidup dalam menghadapi musim penghujan maupun kondisi ekstrem, menekan populasi OPT dan meningkatkan produktivitas," pungkas Azwin.

(mul/ega)