Sertifikat Bebas Formalin dan Boraks Ditentang Menkes
Sabtu, 07 Jan 2006 12:56 WIB
Jakarta - Rencana Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan sertifikat bebas formalin dan boraks mendapat rintangan. Menkes Siti Fadilah Supari tidak setuju. Sertifikat dianggap tidak penting. Lho!"Saya kurang setuju, karena sertifikasi itu validitasnya perlu dipertanyakan," tegas Menkes dalam diskusi yang digelar di Mario's Place, Jalan Menteng Raya, Jakarta, Sabtu (7/1/2006).Yang paling penting, imbuh Menkes, adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat maupun produsen makanan menganai bahayanya penggunaan dan dampak formalin.Diakui perempuan berkacamata ini, sertifikasi yang dikeluarkan BPOM nantinya memang lewat prosedur yang ketat. Salah satunya pemeriksaan terhadap produk makanan yang bersangkutan. Namun yang dikhawatirkan adalah kenakalan produsen makanan.Sebab bisa saja saat diperiksa, produk tersebut bebas formalin, tapi 4-5 hari kemudian produsen menggunakan kembali formalin dalam makanan yang diproduksinya."Saya juga takutkan sertifikasi ini diperjualbelikan, dan yang menjadi korban masyarakat lagi," kata Menkes.Saat disinggung apakah BPOM perlu ditarik ke Depkes lagi, Menkes mengatakan, tidak perlu seperti itu. Dia hanya menginginkan agar BPOM kembali ke khitahnya, yakni lembaga yang mengawasi bahan-bahan makanan bukan lembaga yang mengeluarkan regulasi atau kebijakan.Sebab kalau dua fungsi itu masih disandang BPOM, ia khawatir akan terus timbul kasus seperti formalin, zat pewarna, zat pengawet dan lain-lain dalam makanan.Sebenarnya, pernyataan Menkes ini agak bertolak belakang dengan sebelumnya. Beberapa waktu lalu, Menkes yang mengecam sikap BPOM mempublikasikan penggunaan formalin pada makanan terang-terangan ingin BPOM berada di bawah Depkes lagi agar instansinya bisa ikut mengawasi produk-produk makanan, sehingga jika ada kasus seperti formalin penanganannya bisa lebih cepat.Lebih jauh Menkes menegaskan, saat ini penanganan kasus formalin sudah lebih baik. Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan sudah membahas tata niaga formalin."Tapi sekali lagi yang lebih penting adalah penyuluhan dan penerangan pada masyarakat, bagaimana memilih makanan yang sehat," tandasnya.
(umi/)











































