Ketua MPR Ingatkan Kemajuan Teknologi Tak Boleh Butakan Visi Kebangsaan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Senin, 24 Agu 2020 17:05 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyp
Foto: dok MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyoroti dunia yang masih dilanda perang saudara, seperti India dengan Pakistan yang hingga kini masih mengalami ketegangan. Terlebih berbagai negara di kawasan Timur Tengah seperti Suriah, Irak, Libya, Yaman dan Somalia juga hingga kini masih diselimuti perang saudara yang tak jelas kapan berakhirnya.

Menurutnya, Indonesia masih bersyukur dengan ragam kebudayaan hingga kepercayaan para penduduknya masih memegang teguh keberagaman berkat Pancasila. Namun, kata dia, hal tersebut harus dipertahankan, sebab jika tidak, bisa menyimpan konflik horizontal.

"Di Indonesia, hidup 267 juta lebih penduduk, terdiri 1.340 suku bangsa tersebar di 17.491 pulau, memeluk 6 ajaran agama dan berbagai aliran kepercayaan, serta mengelola kekayaan alam berupa sumber daya hutan, laut dan mineral yang beraneka ragam. Kesemuanya itu bukan hanya menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia, melainkan juga menyimpan potensi konflik horizontal," ujar Bamsoet, Senin (24/8/2020).

"Atas dasar itulah, para pendiri bangsa sejak awal kemerdekaan sudah menyepakati Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara yang mempersatukan bangsa Indonesia dalam berbagai keragaman," imbuhnya dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Trisakti secara virtual.

Mantan Ketua DPR RI ini mengingatkan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan membutakan visi kebangsaan. Pendidikan sebagai kunci utama dalam membangun karakter bangsa, harus melibatkan unsur wawasan kebangsaan yang kuat. Kelalaian dan sikap abai dalam menyaring masuknya faham-faham radikal dan faham-faham lain yang tidak selaras dengan jiwa Pancasila dapat merusak mental generasi muda dan sendi-sendi peradaban bangsa.

"Kekhawatiran tersebut bukan mengada-ada. Merujuk beberapa publikasi hasil survei, seperti LSI tahun 2018 yang menemukan dalam kurun waktu 13 tahun terakhir masyarakat yang pro terhadap Pancasila mengalami penurunan sekitar 10%, dari 85,2% pada tahun 2005 menjadi 75,3% pada tahun 2018," terangnya.

"Survey yang dilakukan pada akhir Mei 2020 oleh Komunitas Pancasila Muda, dengan responden kaum muda usia 18 hingga 25 tahun dari 34 provinsi mencatat hanya 61% responden yang merasa yakin dan setuju bahwa nilai-nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka," tutur Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan empat alasan mengapa mahasiswa mempunyai peran vital dan kedudukan strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, mahasiswa adalah generasi pembelajar yang mempunyai rujukan referensi tidak hanya dari literatur konvensional, tetapi juga dari lingkungan sosial di sekitarnya.

"Kedua, mahasiswa adalah generasi pejuang, yang akan senantiasa dihadapkan pada kompleksitas tantangan zaman. Ketiga, mahasiswa adalah agen perubahan, yang akan menjadi penggerak roda pembangunan dan menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Keempat, mahasiswa adalah pewaris estafet kepemimpinan nasional yang akan mengemban amanah kebangsaan dalam membangun peradaban Indonesia di masa depan," pungkasnya.

(ega/ega)