Otak Atik Kandidat Panglima TNI

Otak Atik Kandidat Panglima TNI

- detikNews
Sabtu, 07 Jan 2006 00:13 WIB
Jakarta - Bursa calon Panglima TNI mulai ramai lagi dibicarakan. Apalagi, Presiden SBY sudah memberi sinyal akan mengirim 1 nama dalam waktu dekat ini. Siapa dia?Berbagai pihak pun melakukan otak atik terhadap siapa yang berpeluang menjadi calon. Setidaknya ada 4 nama yang memenuhi syarat untuk diajukan sebagai calonPanglima TNI.Mereka adalah Jenderal Ryamizard Ryacudu (mantan KSAD), Jenderal Djoko Santoso (KSAD), Laksamana Slamet Subijanto (KSAL) dan Marsekal Djoko Suyanto (KSAU).Keempat calon ini memenuhi persyaratan yang tertuang dalam UU 34/2004 tentang TNI bahwa calon Panglima TNI adalah semua kepala staf angkatan dan perwira tinggi aktif mantan kepala staf angkatan.Jika dilihat dari senioritas angkatan, maka Slamet dan Suyanto paling senior. Mereka tercatat sebagai lulusan Akabri tahun 1973. Sedangkan Ryamizard dan Santoso lulusan Akabri tahun 1974 dan 1975.Namun, siapa yang akan diajukan SBY hingga kini belum jelas. Pengamat militer dari CSIS Kusnanto Anggoro menilai SBY memang sengaja mengambil langkah ini. "Presiden ingin playing save (bermain aman)," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (6/1/2006).Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan SBY mengambil sikap ini. Antara lain, SBY tidak yakin memiliki pengaruh kuat di tubuh TNI dan negosiasi dengan DPR yang belum selesai. "Kalau SBY tidak siap, memang soal panglima ini bisa berubah menjadi isu politik," tuturnya.Kusnanto mengungkapkan jika berdasarkan sejumlah penilaian, maka yang paling unggul adalah Suyanto. Disusul Santoso, Slamet dan Ryamizard. Penilaian yangdigunakan antara lain berdasarkan kedudukan dalam angkatan, keinginan reformasi, penguasaan strategi perang modern dan kontrainsurgensi, dan kapasitas untuk reformasi.Jika Suyanto diajukan menjadi calon panglima, maka bisa jadi SBY akan mendapat keuntungan pada 2009. Apalagi sepanjang sejarah kemiliteran di negeri ini, KSAU belum pernah dapat giliran menjadi panglima TNI.Nah, jika Suyanto dijadikan panglima, nantinya pada tahun 2008 -- alias menjelang Pemilu dan Pilpres 2009-- posisi panglima bisa dioper ke Santoso. "Ini nanti sangat terkait pada politik tahun 2009," kata dosen FISIP UI ini.Namun, jika Santoso dijadikan kandidat panglima pada saat ini, maka yang lebih diuntungkan adalah PDIP dan Partai Golkar. Alasannya, pada tahun 2008, Santoso mulai masuk masa pensiun. "Jika dia (Santoso) keburu menjabat panglima, alhasil tidak bisa lagi diperpanjang usia pensiunnya," tandas Kusnanto.Untuk itu ia mengimbau presiden harus segera menjelaskan alasan pergantian panglima TNI. Hal ini untuk mengurangi tarik-menarik politik."Presiden harus menjelaskan kebutuhan Indonesia ke depan seperti apa. Soalnya kita sebenarnya tidak punya keharusan memiliki seorang panglima TNI," cetus Kusnanto. (ton/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads