Membaca Trend Globalisasi (14)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Pengembangan Observatorium

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Kamis, 20 Agu 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Pengembangan Observatorium
Jakarta -

Dunia observatorium mencapai kemajuan yang luar biasa di bawah otoritas keilmuan muslim. Ketika Pasukan Hulagu Khan mengobarak-abrik kota ilmu pengetahuan Bagdad dan Persia, tampillah Nasiruddin Al-Thusi melobi jajaran pimpinan pasukan Hulagu agar karya-karya ilmu pengetahuan yang amat bermanfaat untuk kemanusiaan tidak dihancurkan. Nasiruddin bersedia membantu jika sekiranya Hulagu mau memanfaatkan jasanya sebagai ahli astronomi dan sekaligus astrologi. Ia juga menyampaikan kesediaannya untuk merawat sekaligus mengembangkan sejumlah laboratorium keilmuan yang sudah mengukir sejarah kemanusiaan. Akhirnya pasukan Hulagu menerima tawaran Nasiruddin. Pasukan Hulagu bahkan memberikan dorongan dan dana kepada Nasiruddin melakukan penelitian lebih intensif. Kesempatan yang ada ini tidak disia-siakan oleh Nasiruddin. Ia mendekati Hulagu agar mendirikan Observatorium dan lembaga sains di Malaga, Persia. Hulagu setuju dan Nasiruddin diminta sebagai direkturnya. Ia diberi kepercayaan untuk merekrut para ilmuan yang ahli dalam bidangnya. Ia berhasil membujuk Qutbuddin Syirazi (w.1311), Ibn Syathir , dan Muhiddin Al-Magribi. Nasiruddin berhasil menyelamatkan sekitar 40.000 buku sains karya para ilmuan muslim di dalam periode sebelumnya.

Observatorium Maragah ini terus berkembang di bawah kepemimpinan Nasiruddin. Ia mengembangkan laboratorium canngi yang mengesankan penguasa dari Mongol itu, hingga pada akhirnya cucu Hulagu Khan, Ulugh Beg masuk Islam. Dengan dukungan penuh raja, maka Nasiruddin membangun sejumlah observatorium canggih di berbagai kota. Nasiruddin bukan hanya mengembangkan Observatorium, tetapi juga mengembangkan disiplin ilmu lain, seperti etika, teologi, dan filsafat. Ia menghidupkan kembali filsafat, khususnya pemikiran Ibn Sina. Tidak heran kalau Nasiruddin juga banyak menulis persoalan-persoalan kontemporer keagamaan seperti ilmu fikih dan tasawuf. Ia juga akrab dengan karya-karya Imam Gazali. Karyanya yang amat gemilang ialah Tajrid al I'tiqad (penyucian keyakinan). Begitu dalam dan luasnya ilmu Nasiruddin sehingga ia dijuluki Ibn
Sina Kedua.

Sebagaimana ilmuan Islam di abad itu, Nasiruddin sulit mengukur keahlian utamanya karena sama-sama ditekuninya. Ingat Ibnu Rusyd yang memiliki jam praktek pagi sebagai dokter spesialis, siang sebagai fuqaha dan filosof, dan malamnya sebagai ahli spiritual. Wawasan keilmuan yang begitu luas dan komperhensif membuat pribadi mereka lebih utuh. Konsep astronomi Nasiruddin berbeda dengan dasar-dasar astronomi yang pernah diletakkan di dalam era kerajaan Romawi Kuno. Ia membantah karya astronom terkemuka, yaitu Ptolemeus, yang menempatkan bumi sebagai pusat geometri bola-bola langit. Nasiruddin menemukan pengajuan model planet baru yang non-Ptolemeus. Ia menggambarkan dua bola, yang satu berputar di dalam dan yang lainnya di luar. Model planet baru ini dikerjakan diselesaikan dan disempurnakan oleh asistennya bernama Qutbuddin Syirazi,
Damaskus, dan Ibn Syathir. Karena temuannya inilah sehingga sejarawan AS, E.S. Kennedy menyebut Nasiruddin sebagai Thusi Couple. Temuan Nasiruddin ini juga diakui oleh fisikawan modern, Ajram (1992).

Kalangan ilmuan modern belum lama ini menemukan sebuah kemiripan dengan apa yang telah dirintis oleh Nasiruddin dengan model yang telah ditemukan Copernicus, seorang astronaut Eropa yang kemudian dianggap sebagai penemu teori gerak planet yang lebih valid. Menurut S.H. Nasr, temuan Copernicus tidak bisa dipisahkan dengan temuan Nasiruddin, karena karya-karya
Nasiruddin juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa. Pernyataan Nasr dalam hal ini merupakan bahasa lain dari Copernicus menjiplat karya Nasiruddin. Banyak sekali karya ilmuan Islam dikembangkan oleh ilmuan Barat tetapi samasekali tidak dikutip. Ini artinya ketidakjujuran ilmiah juga mewarnai sebagian ilmuan barat.

Perkembangan dunia Observatorium saat ini memang sudah jauh lebih maju. Akan tetapi bukankah ilmu pengetahuan itu berakumulasi dari sesuatu yang telah ada sebelumnya? Dunia astronomi sampai kapan pun tidak akan menenggelamkan nama besar Nasiruddin Al-Thusi karena dialah yang dianggap pioner di dalam dunia observatorioum.

(nwy/nwy)