MUI Minta Tahun Baru Islam 1442 H Dijadikan Tahun Solidaritas

Dwi Andayani - detikNews
Rabu, 19 Agu 2020 13:28 WIB
Waketum MUI Zainut Tauhid Saadi
Foto: Zunita Amalia Putri/detikcom
Jakarta -

Tahun baru Islam 1442 H jatuh pada 20 Agustus 2020. Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta tahun baru Islam dijadikan tahun solidaritas.

"Mengajak kepada seluruh bangsa Indonesia, agar menjadikan Tahun Baru Islam 1442 Hijriah sebagai tahun solidaritas dan kepedulian sosial terhadap sesama," ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa'adi, dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8/2020).

Zainut mengatakan hal ini karena masih berlangsungnya pandemi Corona. Jadi, dia mengimbau masyarakat saling membantu meringankan beban masyarakat yang menjadi korban.

"Untuk hal tersebut kami mengimbau kepada para aghniya', dermawan, dan pengusaha untuk menggalang kesetiakawanan sosial dalam rangka membantu meringankan beban masyarakat, yang menjadi korban dan yang terdampak pandemi virus Corona. Agar masyarakat bisa selamat dan bangkit kembali ekonominya," tuturnya.

Selain itu, dia menyebut pihaknya meminta pemerintah bekerja lebih sistematis dalam menangani COVID-19. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan agar korban COVID-19 tidak bertambah.

"Meminta kepada pemerintah untuk bekerja lebih sistematis, terencana dan terprogram dalam menangani wabah COVID-19. Agar jumlah korban tidak semakin bertambah dan penanganan terhadap masyarakat yang terdampak juga dapat segera diselamatkan, sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal," ujar Zainut.

Tidak hanya pemerintah, Zainut juga mengajak seluruh pihak membantu menangani pandemi. "Terlebih pada musim pandemi wabah COVID-19 saat ini, kami mengajak semua pihak untuk bersatu padu, bahu-membahu, dan bekerja sama mengatasi musibah pandemi virus Corona," tuturnya.

Zainut juga mengimbau elite bangsa untuk menahan diri dalam mengekspresikan hak konstitusionalnya. Agar tidak terjadi gesekan di masyarakat.

"Karena hal tersebut selain tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat, juga dapat menimbulkan gesekan dan retaknya bangunan kebangsaan. Jadikanlah perbedaan pendapat sebagai rahmat untuk saling menghormati, dan memuliakan agar ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah tetap terpelihara," pungkasnya.

(dwia/gbr)