RI, AS & Singapura Bikin Field Project Tangani Flu Burung
Jumat, 06 Jan 2006 13:34 WIB
Jakarta - Indonesia, AS, dan Singapura akan bekerjasama membuat field project penanganan flu burung di Kota Tangerang. Di kota itu akan diterapkan strategi-strategi National Asian Influenza Pandemic Prepareness Plan.Demikian disampaikan oleh Dirjen Penanggulangan Penyakit Menular Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun kepada wartawan usai rakor flu burung di Kantor Menko kesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (6/1/2006)."Proyek itu akan diterapkan sebagai model di Kotamadya Tangerang, dan akan berlangsung selama dua tahun dengan fase persiapan selama enam bulan untuk menyusul protokol hingga penganggaran. Apabila proyek ini berhasil akan segera direplikasikan ke tempat lain," ujarnya.Sementara untuk daerah lainnya yang telah dibentuk desa siaga di setiap pos kesehatan desa akan ada juru flu burung yang akan berkunjung ke rumah penduduk.Menurut Menko Kesra Aburizal Bakrie, untuk menanggulangi flu burung rencananya di setiap 3 kecamatan akan dibentuk pos kesehatan hewan. Hal itu penting karena pemerintah harus fokus pada sumber penyebaran virus AI agar tidak semakin meluas. Sebab, kegagalan penanganan flu burung akan menyebabkan kerugian sosial ekonomi yang besar.Dijelaskan Ical, tim penanganan flu burung diberi hak eksekusi secara intensif untuk melaksanakan pemantauan dan monitoring. Untuk tahun 2006, dari APBN telah disediakan dana sejumlah Rp 600 miliar. Namun karena jumlah ini jauh dari cukup, maka harus diupayakan dari sumber lain."Biaya yang diperlukan untuk penanganan flu burung hingga 2008 totalnya kira-kira mencapai Rp 9 triliun. Saya harap ada bantuan dari luar yang bukan dalam bentuk utang, tapi hibah," ujar Ical.Ada pun rencana biaya pananggulangan virus AI tahun 2006 hingga 2008 totalnya Rp 7,6 miliar. Biaya strategi kesiapan menghadapi AI pada manusia Rp 3,3 miliar. Khusus untuk tahun 2006 untuk pengendalian AI terpadu dibutuhkan Rp 2,6 miliar. Dari APBN Rp 372 juta sehingga ada defisit Rp 2,2 miliar.Selain itu pemerintah membuat rencana kontingensi pandemi AI dalam 4 skenario. Skenario pertama, lingkupnya terbatas pada tingkat desa dalam provinsi yang terbatas, biayanya Rp 400 juta, per pasien mendapatkan Rp 10 juta.Skenario kedua, terbatas pada tingkat kecamatan dalam provinsi yang terbatas dibutuhkan biaya Rp 6 miliar, dengan rincian Rp 10 juta per pasien. Skenario ketiga, terbatas pada tingkat kabupaten/kota dalam provinsi yang terbatas biayanya Rp 60 miliar. Skenario keempat, epidemis skala nasional biaya yang diperlukan Rp 650 miliar.Selanjutnya, dengan asumsi angka insiden 11 persen, dengan kematian kasus 50 persen dari total penduduk yang jumlah 220 juta, maka total biaya untuk pasien besarnya Rp 5 triliun.
(san/)











































