Kolom Hikmah

Hijrah ke Negeri Nonmuslim

Ishaq Zubaedi Raqib - detikNews
Kamis, 20 Agu 2020 06:15 WIB
Ishaq Zubaedi Raqib
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Naifkah judul tulisan ini ? Secara historic tidak, tapi kesan semantiknya, bisa jadi iya. Terlebih kalau dikaitkan dengan "sayup-sayup" hijrah versi sekelompok orang dalam satu dekade terakhir. Hijrah "yang ini" , banyak melibatkan para sosialita tapi tak di- itba' oleh mayoritas umat Islam. Bagi kawan-kawan itu, mungkin demikianlah cara pandang dalam beragama. Namun, hingga sejauh ini, sayup-sayup tersebut jangan dianggap sebagai madzhab baru dalam beragama. Masih berupa kecenderungan. Semoga tidak semata trend.

Dalam prakteknya, gerakan ini dimaknai sebagai purifikasi atas (begitu kesan yang muncul) cara pandang dan bukan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Tapi, sementara kalangan justeru meyakini apa yang mereka anut merupakan ikhtiar dan jihad (?) untuk "mengislamkan" orang Islam. Atau paling kurang, begitu cita-cita luhur mereka, untuk lebih mendekatkan umat pada citra dan cita Islam yang lebih original.

Begitu sampai di titik ini, yakni originalitas ajaran, tiba pula kita pada permulaan menuju ikhtilaf. Bagi kalangan mujtahid, mujaddid, mufassir, muhaddits, ulama, idiom ikhtilaf bisa menjadi anugerah dan rahmat dari Tuhan. Mereka bisa saling mendekat dan bertemu. Rujukannya Qur'an dan Sunnah. Mereka ahli quran dan ahli sunnah sekaligus. Jarak mereka belum begitu jauh dari Nabi Muhammad SAW. Dua sumber Islam itu masih segar dalam ingatan.

Dalam forum, halaqah, daurah, dan majelis, mereka menguji ilmu, mencari persamaan dan menentukan mufakat. Jika tidak terjadi titik temu, mereka akan teguh memegang prinsip dan keyakinan serta bersepakat untuk saling menghormati. Di atas prinsip saling hormat itu, sejak ratusan tahun silam, telah lahir ratusan madzab dan manhaj dalam Islam. Yang besar terus bertahan hingga kini seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'ie, Hambali, Ja'fari, Dzahiri dan lain-lain.

Yang kecil-kecil, jadi rujukan komunitas tertentu di tengah-tengah umat. Sementara yang lain, pergerakannya samar-samar dalam catatat sejarah. Begitulah jika para ahli pulang "kembali" kepada Qur'an dan Sunnah. Menjadi terbalik situasinya jika kalangan awam, yang jauh dari kualifikasi ahli, mengaku kembali kepada Qur'an dan Sunnah. Dua sumber Islam itu justeru akan jadi sumber malapetaka bagi mereka. Tanpa ulumul qur'an, ulumut tafsir , minus ulumur rijal, ilmu musthalahul hadits, ulumul lughot , badi', ma'ani, balaghah , mereka coba manafsir firman Allah dan sabda Nabi.

Bukan 1 Muharram

Anda bisa membayangkan apa yang akan terjadi ? Bermodal Qur'an dan kitab hadits terjemahan, mesin pencari data, google dan produk digital lainnya, mereka berani menetapkan hukum. Bermodal itu juga, mereka menggiring tetangganya ke neraka dan kelompoknya ke surga. Karena tindakannya itu, bukannya jama'atul muslimin yang tercipta melainkan firaqul ummah yang muncul. Pada titik ini, Islam tidak lagi dijadikan rahmat bagi alam semesta, tapi menjadi sebab perpecahan. Mereka telah menjelma sumber ikhtilaf dan khilaf sekaligus.

Termasuk ketika menentukan awal-awal bulan dalam kalender "qamariyah" . Sekian tahun silam, umat sering terpecah akibat beda cara dalam menetapkan awal bulan. Terutama soal kapan hilal harus disepakati untuk menentukan awal Syawwal. Beruntung dalam tahun-tahun terakhir, hal yang sebenarnya bisa disepakati lebih dini itu, kini sudah lebih mudah diterima oleh umat. Umat mulai berbesar jiwa ; rela bersepakat dalam ketidaksamaan.

Kini, mari menyadari bahwa 1 Muharram bukanlah tanggal di mana Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah ke Madinah. Muharram sebagai awal tahun baru bagi kaum muslimin, bukanlah bulan saat Ansor dan Muhajirin, menyambut Baginda Nabi dan Abu Bakar As Shiddiq tiba ke Yatsrib dari Mekkah. Hijrah ke Madinah terjadi pada tanggal 1 Rabiul Awwal. Pada tanggal itulah, Nabi meninggalkan Mekkah.

Tentu karena harus mencari jalan keluar paling aman, Nabi tidak langsung dan terang-terangan pergi dari Mekkah. Secara sembunyi-sembunyi, Nabi menjadikan gua Tsur sebagai persinggahan terakhir sebelum hijrah. Itu dilakukan Nabi pada tanggal 26 Shafar. Nabi tinggal beberapa hari di dalam gua. Demikianlah yang tercatat dalam sejarah.

Raja Nasrani

Setelah Nabi wafat, muncul usulan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang usul tahun kelahiran Nabi SAW sebagai awal penanggalan Islam. Ada yang usul tanggal wafat Nabi sebagai patokan. Akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khattab menyepakati salah satu usulan Sahabat dan menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun di mana Nabi SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Tapi itu bukan hijrah pertama dalam Islam. Hijrah pertama yang dirancang Nabi untuk menyelamatkan umat Islam, justeru dilakukan ke negeri nonmuslim. Kerajaan Kristen. Rajanya Nasrani. Jika kaum muhajirin disambut saudara se-iman kaum Ansor Madinah, para sahabat di hijrah pertama malah datang ke negeri yang sama sekali tidak mengenal Islam. Menurut riwayat, pembesarnya justeru terlibat persekutuan dagang dengan pembesar Qurasy.

Hijrah ini terjadi di awal kemunculan Islam, sekitar tahun 613 atau 615 Masehi. Umat Islam terpaksa mengungsi ke wilayah Abisinia untuk menghidar penindasan kaum Quraisy Mekkah. Pada masa itu di wilayah Abisinia berdiri Kerajaan Aksum yang beragama Kristen yang menguasai wilayah Etiopia dan Eritrea saat ini. Penguasa Kerajaan Aksum dikenal dengan gelar Negus yang bernama Ashama bin Abjar.

Dalam Sirah-nya, sejarawan besar Ibnu Ishaq mencatat ; ketika Rasulullah SAW melihat penderitaan para sahabat, dia berkata kepada mereka : "Jika kamu pergi ke Abisinia (akan lebih baik bagimu) karena penguasa di sana tidak akan mentolerir ketidakadilan dan itu adalah negeri yang bersahabat, hingga waktunya Allah membebaskan kalian dari kesulitan yang kalian hadapi sekarang."

Putri Nabi ke Negeri Kristen

Sebagian sahabat pergi ke Abisinia karena kuatir menjadi murtad akibat penindasan. Mereka takut berpaling dari Tuhan dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Inilah hijrah pertama dalam Islam. Peristiwa hijrah ke Abisinia ini terjadi dalam beberapa gelombang. Menurut Ibnu Ishaq, gelombang pertama terdiri atas 11 laki-laki dan 4 perempuan.

Di antaranya Sa'ad bin Abi Waqqas, Utsman bin Affan isterinya yang juga putri Nabi, Ruqayyah. Abu Hudzaifah dan isterinya Sahlah binti Suhail. Lalu Zubair bin Awwam, Mush'ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Abdul-Asad dan isteri Ummu Salama, Utsman bin Mazh'un, Amir bin Rabiah dan isteri Layla. Rombongan ini dipimpin sepupu Nabi, yaitu Ja'far bin Abi Thalib.

Mereka adalah cikal bakal As Sabiquunal Awwalun --kelompok orang dan keluarganya yang pertama-tama menerima Islam. Merekalah citra dan cita pertama originalitas nilai-nilai Islam. Demi terjaga, terlindungi, dan terpeliharanya tunas-tunas Islam itu, Nabi SAW memilihkan daerah yang aman bagi mereka, yaitu di kerajaan Kristen dan raja nonmuslim tapi adil. Hijrah meniscayakan keadilan dalam keyakinan, pikiran dan tindakan !

Selamat
Tahun Baru Hijriyah 1442


Ishaq Zubaedi Raqib


Pembina Pengajian "Al Mawaidz Al Ushfuriyah" Masjid An Nur, Cileungsi, Bogor,-

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)