Kolom Hikmah

Merdeka dari Sifat Amarah dan Dendam

Erwin Dariyanto - detikNews
Senin, 17 Agu 2020 06:49 WIB
Penulis kolom
Foto: Dokumentasi Pribadi
Jakarta -

"Apa makna kemerdekaan"? Pertanyaan ini masih sering penulis terima di usia Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia sekarang ini. Tak hanya kepada saya, sejumlah rekan pun kerap mendapatkan pertanyaan serupa. Dan sudah bisa dipastikan jawabannya akan berbeda-beda. Tergantung dari, di mana, kapan dan kepada siapa pertanyaan diajukan.

Sekitar 20 tahun lalu, ketika pertanyaan itu diajukan kepada rekan penulis di sebuah kampung tak jauh dari kaki Gunung, Lawu, Jawa Tengah, jawabannya adalah: "Merdeka itu ketika bisa belajar diterangi lampu listrik, wajah tidak kena lengus lampu tintir."

Lima tahun kemudian, ketika pertanyaan yang sama diajukan, jawabannya berubah. "Merdeka adalah ketika jalan tak lagi becek, semua beraspal dan enak ke mana-mana." Belum lama ini pertanyaan yang sama penulis ajukan kepada salah satu rekan.

"Merdeka adalah ketika kita bisa terbebas dari sifat amarah dan dendam." Begitu jawabannya. Jawaban yang sebenarnya tak terlalu mengagetkan penulis. Sebab dia memang salah satu aktivis lembaga dakwah Islam.

Tak hanya menjawab ringkas, dia kemudian mencuplik salah satu kisah sahabat sekaligus mertua Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq. Kisah itu adalah saat Aisyah putri Abu Bakar yang juga Istri Nabi Muhammad SAW difitnah. Penyebar fitnah adalah Misthah dan Abdullah bin Ubay. Padahal Misthah, yang secara ekonomi tergolong kurang mampu, sering dibantu Abu Bakar.

Diceritakan, pada suatu ketika setelah berhasil mengalahkan orang-orang Yahudi pimpinan Bani Musthaliq yang akan menyerang umat Islam, pasukan Nabi Muhammad SAW kembali ke Madinah. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW dalam setiap perjalanan selalu mengajak salah satu istrinya. Dan kebetulan saat itu, Aisyah mendapat keberuntungan bisa menyertai Rasulullah SAW.

Dalam perjalanan itu, istri Rasulullah Aisyah dinaikkan di atas sebuah kurungan (tandu) tertutup rapat yang diikatkan di belakang seekor unta. Sebelum tiba di Madinah, Nabi Muhammad SAW meminta pasukannya istirahat terlebih dahulu. Aisyah menggunakan waktu istirahat dengan keluar dari tandu untuk buang air kecil.

Setelah selesai buang air kecil, Aisyah pun kembali ke rombongan. Namun, sebelum sampai di tempat tandu, dia teringat kalungnya tertinggal. Sang Ummul Mukminin itu pun kembali untuk mengambil kalung permata zhafar dari Yaman itu. Setelah berhasil menemukan kalungnya, Aisyah pun menuju tempat rombongan beristirahat.

Betapa kagetnya Aisyah, saat tiba di tempat dia turun dari tandu, semua orang ternyata sudah berangkat ke Madinah. Petugas yang bertugas mengangkat tandunya untuk diikat ke unta, tak tahu bahwa Aisyah belum masuk. Aisyah pun tertinggal jauh dari rombongan umat Islam.

Akhirnya dia memutuskan tetap menunggu di situ dan berharap ada pasukan yang berbalik arah mencarinya. Namun hingga beberapa lama tak juga ada pasukan yang balik arah, sampai kemudian Aisyah tertidur.

Beruntung ada Safwan, salah satu pasukan Islam yang bertugas sebagai 'penyapu', yakni berada di bagian belakang untuk memastikan tak ada yang tertinggal. Safwan mempersilakan Aisyah naik ke atas untanya. Kemudian Safwan menuntun unta itu sampai ke Madinah. Selama perjalanan, Safwan tak pernah mengajak bicara Aisyah, apalagi menyentuhnya.

Namun, Misthah dan Abdullah bin Ubay menyebarkan fitnah bahwa Aisyah tak setia dan telah mengkhianati Rasulullah SAW. Kabar itu pun ramai diperbicangkan oleh penduduk Madinah dan sampai juga didengar oleh Rasulullah SAW. Aisyah pun akhirnya mendengar desas desus itu.

Fitnah sempat membuat rumah tangga Rasulullah SAW terganggu. Kepada Aisyah, Rasulullah SAW berkata, "Wahai Aisyah, sudah sampai kepadaku berita tentangmu yang ini dan itu. Seandainya kau bersih dari tuduhan itu, maka Allah akan menyelamatkanmu. Tapi seandainya engkau memang melakukan dosa, maka bertaubatlah serta minta ampunah kepada Allah. Karena ketika seseorang melakukan dosa, lalu bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.

Mendengar perkataan Rasulullah, Aisyah yang sedari awal menangis, kian kencang tangisnya. Dia meminta sang ayah, Abu Bakar untuk menjawab. Namun Abu Bakar tak tahu harus menjawab apa. Begitu juga sang Ibu, Ummu Ruman pun tak bisa menjawab.

Hingga akhirnya Aisyah menjawab sendiri pertanyaan Rasulullah SAW. "Hanya Allah yang maha mengetahui. Aku tidak bisa membela diri. Tetapi aku akan berkata sebagaimana perkataan Nabi Yakub, ayah Nabi Yusuf, 'Kesabaran yang baik, itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang dituduhkan kepadaku."

Setelah menyelesaikan ucapannya, Aisyah masuk ke kamar meninggalkan Rasulullah SAW yang berada di ruang tamu bersama Abu Bakar. Saat itulah datang petunjuk dari Allah SWT. Turun wahyu kepada Nabi Muhammad SAW yakni Surat an Nur ayat 11 sampai 13.

Surat An Nur ayat 11

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ


"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. "

Surat An Nur ayat 12

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ


"Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata".


Surat An Nur ayat 13

لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ


"Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta."


Aisyah terbukti tidak bersalah dan terbebaslah dia dari fitnah. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada Allah SWT. Sementara Abu Bakar merasa kesaldengan Mishtah yang selama ini selalu dia bantu. "Teganya dia memfitnah anakku. Demi Allah aku akan menghentikan bantuan kepada dia," kata Abu Bakar.

Rasulullah SAW kemudian membacakan Surat An Nur ayat 22, wahyu yang baru saja turun.

Surat An Nur ayat 22


وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,"

Setelah dibacakan wahyu tersebut, Abu Bakar tak jadi menhentikan bantuan kepada Mishtah. Dia lebih suka mendapat ampunan dari Allah SWT. Bantuan kepada Mishtah dilanjutkan sampai orang yang pernah memfitnah Aisyah itu meninggal dunia.

Dalam kisah itu bisa diambil salah satu hikmahnya adalah sikap Abu Bakar yang bisa membebaskan diri dari rasa amarah dan dendam. Sahabat Rasulullah yang akhirnya menjadi Khalifah itu berhasil terbebas atau merdeka dari sikap amarah dan dendam. Begitu juga Aisyah yang merdeka dari sifat amarah dan dendam. Merdeka dari sifat dendam dan amarah telah menempatkan Abu Bakar dan Aisyah sebagai orang yang mulia dan tinggi kedudukannya.

Merdeka dari sifat amarah dan dendam, tentu bukan satu-satunya jawaban atas pertanyaan tentang makna kemerdekaan.

Dirgahayu Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia

Erwin Dariyanto
Redaktur Pelaksana Special Content dan Hikmah detikcom


*Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis. Isi artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi detikcom. -Terima kasih (redaksi)

(erd/erd)